Wawancara Eksklusif Jam Jam Asia: H3F Terpukau Energi Taiwan, Rindu Tongseng, hingga Harapan Kolaborasi dengan Thee Marloes

Taipei, Taiwan — Hembusan musik soul, funk, dan blues dari panggung Jam Jam Asia sukses menyihir para penikmat musik di Taipei. Di balik penampilan memukau tersebut, ada H3F, kuartet asal Bangkok, Thailand, yang digawangi oleh Kong (vokal/gitar), Max (drum), Mhom (bass), dan Ping (gitar).

Di sela-sela festival, tim Indomusikgram berkesempatan berbincang santai namun mendalam dengan H3F. Mereka membagikan pengalaman manggung di bawah terik matahari Taiwan, nostalgia panggung dan kuliner di Indonesia, hingga kekaguman mereka terhadap musisi-musisi Tanah Air.

Kejutan Manis di Balik Cuaca Terik Taiwan

Tampil di festival luar ruangan dengan cuaca yang sangat panas sempat membuat sang vokalis, Kong, merasa ragu. Di Thailand, menurutnya, audiens cenderung akan menepi dan berteduh jika ada band yang bermain di siang bolong yang terik.

“Awalnya saya tidak berekspektasi penontonnya akan ramai karena cuacanya benar-benar sangat panas. Tapi ketika tirai panggung diturunkan, saya langsung terkejut, ‘Oh astaga!’” cerita Kong sambil tertawa. “Sangat menyenangkan melihat orang-orang tetap keluar dan memberikan dukungan di bawah terik matahari. Penggemar di Taiwan benar-benar gila dan sangat energik.”

Kenangan Panggung 360 Derajat dan Obsesi pada Tongseng

Berbicara tentang Indonesia, H3F ternyata memiliki rekam jejak yang cukup panjang dan berkesan. Mereka tercatat pernah dua kali menyapa penggemar di Tanah Air.

Penampilan pertama mereka adalah di LaLaLa Fest tahun lalu, di mana mereka bermain di atas panggung berbentuk lingkaran (360 derajat) yang memberikan pengalaman interaktif luar biasa. Setelah itu, mereka kembali untuk tampil di Teater Salihara, Jakarta, serta singgah menyapa penggemar di Bandung.

Namun, jika ditanya apa momen paling berkesan bagi mereka di Indonesia, jawabannya serempak mengarah pada kuliner. “Momen favorit saya adalah saat bisa makan Tongseng! Rasanya enak sekali, saya rasa saya sampai memakannya lima porsi,” ujar Kong antusias.

Tak mau kalah, personel lainnya pun ikut menyahut dan menyebutkan makanan favorit mereka selama di Indonesia, mulai dari Sate hingga Martabak. Bagi H3F, kelezatan kuliner Indonesia memiliki tempat yang setara dengan hidangan di negara asal mereka, Thailand.

Kesamaan Karakter Orang Thailand dan Indonesia

Selain makanan, H3F juga menyoroti kesamaan sifat antara masyarakat Thailand dan Indonesia. Ketika ditanya apa benang merah antara kedua negara, Kong dengan cepat menyoroti kebaikan hati penduduknya.

“Menurut saya, kesamaannya ada pada betapa santainya orang-orang di sana. Sangat baik hati (kind-hearted),” jelas Kong. “Semua orang sangat easygoing. Anda bisa bertanya kepada siapa saja atau meminta tolong, dan mereka pasti akan membantu. Saya tidak pernah merasakan adanya agresivitas sama sekali. Dalam bahasa kami, itu disebut ‘Jai dee’ (baik hati).”

Memuji Skena Jazz Lokal dan Keinginan Menggandeng Thee Marloes

Secara musikalitas, H3F tidak segan memberikan pujian setinggi langit untuk para musisi Indonesia. Kong secara khusus menceritakan kekagumannya saat sempat bermain bersama seorang kibordis muda asal Indonesia bernama Deco, yang tergabung dalam sebuah band jazz fusion. “Kualitas musisi di Indonesia sangat luar biasa gila,” pujinya.

Ketika ditanya mengenai musisi Indonesia yang paling ingin mereka ajak berkolaborasi, H3F langsung menyebut nama Thee Marloes. “Saya sangat menyukai Thee Marloes. Mereka adalah grup beraliran Motown/soul yang berada di bawah label Big Crown Records,” ungkap Kong.

Keinginan H3F untuk membangun jembatan musik antara Thailand dan Indonesia rupanya bukan sekadar wacana. Mereka berencana untuk bisa berkolaborasi dengan Thee Marloes dan membuat konser bersama di Thailand. Bahkan, sebelumnya H3F juga telah sukses mengundang solois Pamungkas untuk tampil di negara mereka.

Scroll to Top