Taipei, Taiwan — Panggung Jam Jam Asia 2026 kembali menjadi etalase musikalitas tingkat tinggi dari berbagai penjuru Asia. Salah satu penampil yang sukses memikat perhatian adalah Charlie Lim, penyanyi sekaligus penulis lagu berbakat asal Singapura. Dengan karakter vokalnya yang membius dan aransemen musik yang elegan, ia berhasil menciptakan suasana magis di tengah hiruk-pikuk Taipei.

Sesaat setelah merampungkan setnya yang memukau, tim Indomusikgram berkesempatan menemui Charlie Lim di area belakang panggung untuk berbincang mengenai pengalamannya di festival tersebut, serta pandangan jujurnya mengenai industri musik di negara tetangga, Indonesia.
Kejutan Manis dari Publik Taiwan
Bagi seorang musisi internasional, menjajal panggung di negara yang mungkin memiliki kultur pendengar berbeda selalu memberikan tantangan tersendiri. Charlie Lim secara terang-terangan mengaku terkejut—sekaligus sangat bersyukur—melihat animo masyarakat Taiwan terhadap penampilannya.
“Hari ini penontonnya benar-benar asyik, dan ternyata venue-nya terisi penuh banget,” ungkap Charlie dengan senyum sumringah.
Ia tidak menyangka bahwa musiknya akan disambut dengan kehangatan yang luar biasa di Taipei. “Aku sangat kaget, sekaligus bersyukur dan bersemangat karena banyak banget orang yang ternyata meluangkan waktu datang untuk menonton.”
Rasa Kagum (dan Iri) Terhadap Skena Musik Indonesia
Membicarakan skena musik di kawasan Asia Tenggara tentu tidak lengkap tanpa menyinggung Indonesia. Dari sudut pandang seorang musisi Singapura, Charlie Lim memberikan pandangan yang sangat jujur dan menarik mengenai ekosistem musik di Tanah Air.
Bukan sekadar pujian biasa, Charlie bahkan mengaku bahwa musisi-musisi di negaranya merasa sedikit “iri” dengan solidaritas penggemar musik di Indonesia. “Jujur, kami sangat kagum melihat Indonesia, terutama karena besarnya dukungan yang diberikan audiens untuk musisi lokal mereka di sana,” jelasnya.
Charlie mengambil contoh dari kesuksesan salah satu rekan senegaranya, Sezairi, yang karyanya meledak dan diterima dengan sangat masif oleh pasar musik Indonesia. “Kami (musisi Singapura) lumayan iri melihat hal tersebut. Aku adalah teman baik Sezairi dan tentunya ikut sangat senang melihat musiknya bisa laku keras di Indonesia,” tambahnya.
Incar Petra Sihombing untuk Proyek Masa Depan
Kesuksesan Sezairi di Indonesia rupanya membuka obrolan ke arah yang lebih spesifik, yakni mengenai proses produksi di balik layar. Charlie Lim menyoroti satu nama musisi dan produser andal kebanggaan Indonesia yang berada di balik karya rekannya tersebut: Petra Sihombing.
Mengetahui sepak terjang Petra di industri musik, Charlie secara blak-blakan menaruh minat yang sangat besar untuk bisa masuk ke dapur rekaman bersama pelantun lagu “Mine” tersebut.
“Albumnya (Sezairi) dia produce sendiri, dan dibantu oleh Petra. Aku pengin banget bisa bekerja bareng Petra suatu hari nanti,” aku Charlie, memberikan sinyal kuat akan adanya kemungkinan kolaborasi lintas negara di masa depan.
Apabila kolaborasi antara musikalitas elektronik/R&B khas Charlie Lim dan sentuhan tangan dingin Petra Sihombing ini benar-benar terwujud, tentu ini akan menjadi karya persilangan yang patut diantisipasi oleh penikmat musik di Singapura maupun Indonesia.


