Di tengah kekhawatiran soal memudarnya minat generasi muda Indonesia terhadap seni tradisi, seorang pria asal Wonogiri, Jawa Tengah justru telah puluhan tahun memperkenalkan gamelan Jawa kepada ribuan mahasiswa di salah satu universitas paling bergengsi di dunia — University of California, Berkeley.

Ia adalah Ki Midiyanto.
Dari Wonogiri ke Panggung Dunia
Ki Midiyanto lahir di Wonogiri, sebuah kabupaten di bagian selatan Jawa Tengah, dari keluarga yang telah berprofesi sebagai pengrawit dan dalang selama beberapa generasi. Sejak kecil, gamelan dan wayang kulit bukan sekadar kesenian — melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-harinya.
Ia menempuh pendidikan formal di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) sebelum melanjutkan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Dari sana, karirnya sebagai musisi dan dalang terus berkembang — membawanya jauh melampaui batas-batas tanah Jawa.
Sebelum tiba di Amerika Serikat, Midiyanto terlebih dahulu mengajar gamelan di Universitas Victoria, Wellington, Selandia Baru selama dua tahun. Pengalaman mengajar di luar negeri ini menjadi bekal penting yang membentuk pendekatannya dalam memperkenalkan gamelan kepada audiens non-Indonesia.
Tiba di Berkeley
Pada 1988, Midiyanto pertama kali mengajar gamelan di UC Berkeley bersama Profesor Ben Brinner. Di tahun yang sama, keduanya mendirikan Gamelan Sari Raras — sebuah ensembel pertunjukan gamelan Jawa yang beranggotakan mahasiswa dan warga Amerika, namun tampil dengan keaslian dan kedalaman tradisi Jawa Tengah.
Perlu dicatat, kelas gamelan Jawa di UC Berkeley sebenarnya sudah ada sejak 1976 — jauh sebelum Midiyanto tiba. Namun baru setelah ia bergabung, kelas-kelas ini berkembang pesat dan semakin konsisten menghadirkan pertunjukan berkualitas tinggi setiap semesternya.
Midiyanto sempat absen dari Berkeley pada 1991. Selama periode tersebut, ia tidak berhenti berkarya. Ia melanjutkan pendidikannya dan berhasil meraih gelar Master of Arts in Education dari Lewis and Clark College, Portland, Oregon pada 1997 — sembari tetap aktif mengajar gamelan di berbagai institusi lain, termasuk Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC.
Pada 2004, ia kembali ke UC Berkeley dan aktif mengajar hingga hari ini. Kini ia menjabat sebagai Lecturer sekaligus Co-Director Gamelan Sari Raras di Departemen Musik UC Berkeley — mengampu kelas gamelan yang rutin menggelar konser setiap semester di Hertz Hall, termasuk pertunjukan wayang kulit lengkap dengan dalang dan sinden.
Mengajar Orang Asing, Saling Belajar
Bagi Midiyanto, mengajar gamelan kepada mahasiswa asing bukanlah tantangan — melainkan pengalaman yang justru memperkaya dirinya sendiri.
“Saya mengajar orang-orang yang bukan orang Jawa. Saya harus menghadapi orang-orang asing dan itu merupakan proses belajar bagi saya. Saya mengajarkan apa yang mereka inginkan, bukan karena ini tradisi jadi harus begini, bukan. Kita justru saling belajar,” ujarnya.
Ia juga kerap mengungkapkan kekagumannya terhadap keseriusan mahasiswa Amerika dalam mempelajari gamelan. Menurutnya, latar belakang budaya yang terbiasa dengan kedisiplinan membuat mereka menyerap pelajaran dengan sangat sungguh-sungguh.
Dan hasilnya nyata. Ribuan mahasiswa telah merasakan pengalaman belajar tradisi musik Jawa Tengah langsung dari seorang dalang asli Indonesia — sesuatu yang tidak mudah ditemukan bahkan di dalam negeri sekalipun.
“Musik gamelan kalau sudah tertanam di hati seseorang, jiwa orang itu seperti addicted. Tidak mungkin setelah belajar gamelan akan mereka lepaskan. Banyak sekali justru jiwa mereka melebihi orang Jawa,” tutur Midiyanto.
Tak Lupa Kampung Halaman
Di balik kesibukan mengajar di Amerika, Midiyanto tidak pernah melupakan tanah kelahirannya. Sejak tahun 2000, ia mendirikan yayasan gamelan di Wonogiri untuk mengajarkan gamelan secara gratis kepada anak-anak berusia 5 hingga 15 tahun.
Baginya, membawa gamelan ke panggung internasional dan memastikan anak-anak di Wonogiri tetap mengenal warisan leluhur mereka adalah dua sisi dari satu misi yang sama — menjaga gamelan tetap hidup dan relevan, di mana pun ia berada.
Warisan yang Terus Bergema
Perjalanan Ki Midiyanto adalah bukti bahwa seni tradisi tidak harus terkurung dalam batas geografis atau generasi. Dengan dedikasi, kesabaran, dan kecintaan yang tulus terhadap gamelan, ia telah membuktikan bahwa bunyi gamelan Jawa mampu bergema jauh — dari Wonogiri hingga Berkeley, dari panggung wayang hingga Hertz Hall.
Di saat dunia semakin bergerak cepat dan serba digital, ada seorang pria dari Wonogiri yang dengan tenang terus memukul saron, membimbing mahasiswa asing memainkan kenong, dan memastikan bahwa suara gamelan Jawa tidak pernah berhenti terdengar.


