Dari Mana Sebenarnya Musisi Dapat Uang?

Kami bertanya langsung kepada Jason Ranti, David Karto, dan Dado Darmawan — tiga orang dengan posisi berbeda di industri musik Indonesia.


Pertanyaan ini terdengar sederhana. Tapi jawabannya jauh lebih kompleks dari yang kita kira, dan sangat bergantung pada siapa yang ditanya.

Kami memilih tiga sudut pandang yang berbeda: musisi, pendiri label, dan manajer artis. Karena cara melihat industri musik dari ketiga posisi itu tidak pernah sama.


Jason Ranti: Kesenian Bukan Jalan Mencari Kekayaan

Jason Ranti menjawab pertanyaan ini dengan cara yang paling jujur — dan mungkin paling tidak terduga.

“Dari Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya. “Dan itu diturunkan ke dalam bentuk album fisik, merchandise, dan ya mungkin kolaborasi-kolaborasi yang lain.”

Musisi yang dikenal lewat album Akibat Pergaulan Blues ini memang tidak pernah memposisikan dirinya sebagai mesin komersial. Ketika ditanya soal tantangan terbesar dalam menghasilkan uang dari musik, jawabannya bahkan lebih mengejutkan.

“Saya kira kesenian bukan jalan untuk mencari kekayaan. Mungkin mesti usaha kali ya kalau mau kaya raya, tapi ya berkesenian, kesenian saja.”

Bagi Jason, ini bukan pesimisme. Ini adalah cara pandang yang menempatkan karya di atas kalkulasi komersial — dan paradoksnya, justru dari situlah karya-karyanya punya bobot yang berbeda.


David Karto: Konsep 360 Derajat

Dari sisi label, David Karto melihat monetisasi dengan cara yang jauh lebih sistematis.

David adalah co-founder demajors, label independen yang berdiri sejak tahun 2000 dan telah membesarkan nama-nama seperti Efek Rumah Kaca, Endah N Rhesa, hingga Tulus. Menurutnya, kunci memahami monetisasi musik ada pada satu konsep: 360 derajat.

“Kita bisa melihat sebuah monetisasi dari band atau label dengan konsep 360 derajat. Hal itu bisa dimulai dari karyanya sendiri, baik dari rilisan fisik maupun digital, serta hal-hal lainnya yang berhubungan dengan merchandising.”

Karya jadi pusatnya. Dari sana, semuanya bisa dikembangkan ke berbagai arah.

“Dari sisi pengelolaan, misalkan dari manajemen yang bisa bekerja sama dalam booking, konsep touring, ataupun sebuah pertunjukan showcase maupun show biasa yang bisa memberikan dampak atau hasil monetisasi.”

David juga menekankan pentingnya promosi yang konsisten dan membangun jangkauan seluas mungkin — baik di dalam maupun luar teritori artis. Sesuatu yang sering diabaikan oleh musisi yang terlalu fokus pada produksi karya tanpa memikirkan distribusinya.


Dado Darmawan: Mulai dari Panggung

Dado Darmawan berbicara dari posisi yang paling dekat dengan musisi sehari-hari: sebagai manajer. Ia pernah menangani Orkes Moral Pengantar Minum Racun, Jason Ranti sendiri, hingga Orkes Nunung CS.

Bagi Dado, sumber pendapatan terbesar untuk musisi yang baru tumbuh hanya satu: pertunjukan.

“Sumber pendapatan terbesar bagi musisi yang sedang tumbuh kembang pada fase awal didapatkan dari pertunjukan musiknya. Apabila pertunjukan musiknya memukau, hal itu akan menaikkan jumlah stream.”

Dari sana, efek dominonya berjalan: stream naik, ramai di media sosial, pintu merchandise terbuka, royalti mengalir, dan brand mulai melirik.

“Untuk bisa mencapai gelombang momentum tersebut, memang dibutuhkan kerja keras yang sangat tinggi,” tambahnya.

Dado juga menyebut empat kesalahan finansial yang paling sering dilakukan musisi:

Pertama, mencampuradukkan uang pribadi dan uang bisnis. Kedua, menjalani gaya hidup yang melebihi kemampuan finansial. Ketiga, tidak membangun dana darurat. Keempat, mengabaikan pencatatan keuangan.

Bukan soal karya yang kurang bagus. Tapi soal pengelolaan yang tidak disiplin.

Ketika sudah punya rezeki yang cukup, Dado menyarankan musisi untuk mulai membangun pendapatan pasif. Salah satu yang banyak dilakukan: membangun kedai kopi berbasis fanbase.

“Meskipun ada yang berhasil dan ada yang tidak, hal ini bisa menjadi salah satu opsi sumber pendapatan pasif lainnya.”


Tidak Ada Satu Jalan

Tiga orang, tiga posisi, tiga cara melihat industri yang sama.

Jason memilih untuk tidak menjadikan uang sebagai tujuan utama berkesenian. David membangun sistem yang memaksimalkan setiap titik nilai dari sebuah karya. Dado memulai dari yang paling konkret: naik panggung, memukau penonton, dan membangun momentum dari sana.

Tidak ada satu jawaban yang benar. Tapi ada satu benang merah: musisi yang bertahan lama di industri ini selalu punya cara sendiri untuk memahami di mana posisinya — sebagai seniman, sebagai bisnis, atau keduanya sekaligus.

Scroll to Top