Penyanyi Nadhif Basalamah akhirnya memutuskan untuk bersuara terbuka tentang sesuatu yang sudah lama ia pendam — pelecehan verbal yang terus-menerus diterimanya di media sosial X dan TikTok. Unggahan itu ia tulis pada Sabtu, 27 Juni 2026, dan langsung memicu perhatian luas dari publik.

Gemetar Saat Mengetik, Tapi Tetap Bicara
Nadhif mengaku tidak mudah mengambil keputusan untuk berbicara. Ia bahkan mengaku tangannya gemetar saat mengetik unggahan tersebut.
“Aku tidak tahu apakah ini tepat untuk bersuara, dan aku gemetar saat mengetik ini, tapi tingkat pelecehan yang kualami secara daring di X dan TikTok ini sudah tak tertahankan,” tulis Nadhif di akun X miliknya.
Untuk memberikan gambaran nyata kepada publik, ia turut melampirkan sejumlah tangkapan layar yang memperlihatkan komentar-komentar bernada seksual yang ia terima — termasuk editan foto dirinya yang bersifat merendahkan. Bukan untuk mencari sensasi, melainkan untuk menunjukkan bahwa yang ia alami bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.
Bukan Konsekuensi Jadi Figur Publik
Yang paling mengusik Nadhif adalah anggapan bahwa pelecehan semacam ini adalah risiko yang harus diterima oleh siapapun yang memilih menjadi figur publik. Ia secara tegas menolak pandangan tersebut.
“Kalau kalian bilang ini konsekuensi dari menjadi tokoh publik, aku lebih baik berhenti saja,” tulisnya.
Pernyataan itu sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan penggemarnya, seolah pelantun “Penjaga Hati” dan “Kota Ini Tak Sama Tanpamu” itu mempertimbangkan untuk meninggalkan dunia musik. Namun banyak yang membacanya sebagai ekspresi kelelahan, bukan pernyataan resmi soal karier.
Pelaku Diduga dari Sesama Pria
Berdasarkan keterangan Nadhif, sebagian besar komentar pelecehan yang diterimanya berasal dari akun-akun pria. Nadhif menegaskan bahwa pernyataannya bukan ditujukan untuk menyerang komunitas tertentu.
“Bukan berarti aku punya masalah dengan komunitas itu. Aku bukan anti, juga bukan sekutu. Tapi aku punya banyak teman dari komunitas itu dan aku sangat menghormati mereka. Justru kenyataan bahwa hal seperti ini terus terjadi membuat situasinya terasa semakin buruk,” jelasnya.
Dukungan Luas dari Publik
Unggahan Nadhif langsung disambut gelombang dukungan dari warganet. Banyak yang menegaskan bahwa pelecehan seksual tidak mengenal gender — laki-laki pun bisa menjadi korban — dan bahwa hal tersebut tidak boleh dinormalisasi atas nama popularitas atau status sebagai figur publik.
Nadhif berharap keberaninya berbicara bisa menjadi pengingat bagi semua pihak tentang pentingnya etika dalam berinteraksi di ruang digital, sekaligus mendorong korban lain yang mengalami hal serupa untuk tidak memilih diam.
“Ini tidak bisa diterima, teman-teman. Tolong hentikan,” tulisnya menutup unggahan tersebut.


