“Dipajak!” Jadi Monumen Kolaborasi Heruwa dan Ole, Potret Keresahan yang Dirayakan Lewat Musik

Ada lagu yang lahir dari studio. Ada pula yang lahir dari ruang ngobrol — dari malam-malam panjang penuh kopi dan perdebatan yang tidak kunjung selesai. “Dipajak!” adalah yang kedua. Single kolaborasi antara vokalis Shaggydog Heru Wahyono (Heruwa) dan musisi Ole (almarhum) ini hadir sebagai bukti bahwa keresahan yang jujur, ketika dikonversikan menjadi seni, bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih bermakna dari sekadar lagu.


Lahir dari Diskusi, Bukan dari Pesanan

“Dipajak!” tidak dirancang di atas meja produksi. Ia tumbuh organik dari malam-malam panjang diskusi antara Heruwa, Ole, dan kawan-kawan satu tongkrongan yang kerap mencermati berbagai wacana kebijakan yang bergulir sepanjang tahun lalu — kebijakan-kebijakan yang sempat memantik perdebatan hangat karena seolah-olah menyasar hampir semua aspek kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari keresahan bersama itulah lagu ini menemukan bentuknya.

“Membayar pajak adalah bagian dari komitmen kita bersama untuk membangun bangsa dan menjalankan roda peradaban. Namun, sebagai seniman, kami juga melihat bagaimana dinamika diskusi di masyarakat sangat menarik untuk diabadikan ke dalam sebuah karya musik. Lagu ini adalah potret kemanusiaan tentang bagaimana kita semua bersama-sama beradaptasi.”
— Heruwa

Kritik sosial yang tidak menggurui — hanya mengamati, memotret, lalu menyajikannya kembali dengan cara yang ringan dan sedikit nakal.


Kalimat Satu Baris yang Mengandung Segalanya

Di jantung lagu ini ada sebuah kalimat yang sekaligus menjadi sudut pandang, lelucon, dan pernyataan:

“Dimana bumi dipijak, disitu kita dipajak.”

Heruwa dan Ole menyampaikan hal yang kompleks dengan cara yang paling sederhana — dan justru di situlah kekuatannya. Lirik yang jenaka, pendekatan yang kasual, namun di baliknya ada pengamatan yang tajam terhadap realita yang dialami banyak orang secara bersamaan.


Funk, Soul, Rock, dan Brass Section yang Bertenaga

Secara musikal, “Dipajak!” hadir dengan aransemen yang jauh dari datar. Lagu ini mengusung genre fusion yang mengawinkan ketukan ritmis funk, vokal yang soulful, dan sentuhan rock yang memberikan energi tersendiri. Lapisan yang paling mencuri perhatian adalah brass section yang dinamis — menghadirkan warna yang fun dan enerjik, membuat lagu ini terasa seperti sesuatu yang ingin kamu nikmati sambil bergoyang, bukan sambil mengerutkan dahi.

Proses rekaman melibatkan deretan musisi yang kredensialnya berbicara sendiri: Dino ‘Kimpling’ (gitaris Hennessey), Henry (bassist Morning Horny), Anggri ‘Simbah’ (drummer The Everyday Band), Angga & Herbin dari The Brass Dawgz/Shaggydog mengisi trombone dan saksofon, serta Ferry Kurniawan yang mengisi hammond dan piano sekaligus bertanggung jawab atas proses mixing dan mastering. Direkam oleh sound engineer Shaggydog, Bagong, di Milli Sayidan.


Sebuah Kolaborasi yang Kehilangan Salah Satu Suaranya

Di balik keceriaan yang terpancar dari lagu ini, ada kesedihan yang nyata. Ole — kolaborator yang ikut membangun “Dipajak!” dari obrolan hingga rekaman — berpulang saat lagu ini masih dalam proses mixing. Ia tidak sempat mendengar hasil akhirnya.

Menjadikan rilisan ini bukan hanya karya bersama, melainkan juga sebuah penghormatan. Setiap ketukan, setiap lirik nakal, dan setiap tiupan brass section dalam lagu ini kini membawa makna ganda — perayaan sekaligus kenangan.


Tradisi Panjang Lagu Bertema Pajak

“Dipajak!” tidak hadir dalam kekosongan. Lagu bertema serupa sudah menjadi bagian dari tradisi musikal dunia sejak lama — dari “Taxman” The Beatles (1966) hingga “Pajak” Slank (1993). Keduanya lahir dari semangat yang sama: menggunakan musik sebagai medium untuk merespons kebijakan dan realita sosial yang dialami masyarakat.

Dan konteks historisnya pun tidak bisa diabaikan. Manusia telah membayar pajak sejak sekitar 3000 SM di zaman Mesir Kuno, ketika rakyat menyisihkan hasil bumi untuk pembangunan fasilitas publik. Hubungan antara warga dan sistem pembiayaan pembangunan ini terus berevolusi, menjadi topik yang diperbincangkan dari Benjamin Franklin hingga Albert Einstein.

Franklin pernah berkata: “Di dunia ini, tidak ada yang bisa dikatakan pasti, kecuali kematian dan pajak.”

Heruwa dan Ole memilih untuk merespons kepastian itu dengan cara yang paling manusiawi — dengan musik, dengan tawa, dan dengan kejujuran yang tidak dibuat-buat.


Potret yang Akan Terus Relevan

“Dipajak!” adalah karya yang lahir dari momen tertentu, tapi pesannya tidak terikat waktu. Selama ada pajak — dan selama manusia terus berdiskusi tentang keadilannya — lagu ini akan selalu menemukan pendengar yang merasa terwakili.

Single “Dipajak!” dari Heruwa dan Ole kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital.

Scroll to Top