Dua puluh tahun adalah perjalanan yang sangat panjang. Dan Barry Likumahuwa memilih cara yang sangat khas untuk merayakannya—bukan dengan sorotan lampu yang menyilaukan, melainkan dengan sebuah lagu yang justru mengajak semua orang untuk melihat ke bawah, menghargai pijakan, dan menikmati setiap langkah kecil yang selama ini dijalani. “Jalan di Bawah” resmi dirilis pada 15 Mei 2026, menghadirkan kolaborasi hangat bersama dua musisi muda berdarah Timur, Diego Xoxa dan Grizzly Cluive.

Reimajinasi yang Penuh Makna Personal
“Jalan di Bawah” bukan lahir dari nol. Ia adalah reimajinasi dari “Walkin’ with the Bass”—lagu yang Barry rilis pada 2008 dan ternyata menyimpan dampak yang jauh lebih luas dari yang mungkin disadari.
Christian Bong, Executive Producer sekaligus penulis lirik versi baru ini, mengungkapkan betapa personalnya momen ini:
“Secara personal, lagu original ini punya dampak besar dalam perjalanan musik saya — sering saya bawakan di berbagai lomba band, dan menjadi salah satu lagu yang membentuk selera dan arah bermusik saya. Maka menjadi sebuah kehormatan ketika Indomusik Records dipercaya merilis versi baru ini, dan saya sendiri diberi kesempatan untuk menulis liriknya. Sebuah momen yang penuh arti ikut merayakan 20 tahun karir seorang Barry Likumahuwa lewat lagu yang dulu turut membentuk saya.”
Secara musikal, versi ini membawa pergeseran yang terasa signifikan—dari minor key ke major key, memberi nuansa yang lebih merayakan dan cerah. Sebuah keputusan yang terasa sangat tepat untuk sebuah perayaan dua dekade.
“Jalan di Bawah”: Dua Dimensi dalam Satu Judul
Judul lagu ini bekerja di dua lapisan sekaligus, dan keduanya terasa sangat disengaja. Christian Bong menjelaskan permainan kata yang menjadi fondasi liriknya:
“Liriknya bermain pada dua dimensi kata ‘bawah’: sebagai pemain bass yang identik dengan frekuensi bawah, sekaligus sebagai representasi sikap humble yang Bung Barry pegang teguh sepanjang 20 tahun berkaryanya.”
Dua puluh tahun di industri musik Indonesia, konsisten menghadirkan eksplorasi funk, jazz, soul, dan groove modern—dan Barry tetap memilih untuk jalan di bawah. Bukan karena tidak bisa naik, melainkan karena tahu bahwa di situlah musik yang paling jujur berakar.
Pesan itu juga tersurat dalam lirik yang mengalir sederhana namun dalam:
“Beta bajalan pelan / Di bawah langit Jakarta / Langkah berbunyi bernada / Terasa di dada”
Dan kemudian:
“Satu dua beta pikir / Tiga empat beta pilih / Biar lambat asal finish”
Pengingat yang hangat—bahwa tidak semua yang lambat itu kalah, dan tidak semua yang tergesa itu menang.

Kolaborasi yang Mengalir Organik
Barry mengakui bahwa ada sesuatu yang berbeda dari proses kreatif lagu ini. Pertemuannya dengan Diego Xoxa dan Grizzly Cluive menghasilkan dinamika yang tidak dipaksakan—mengalir begitu saja dari kesamaan energi dan rasa.
“Vokal Diego yang berkarakter ditambah rhymes dari Grizzly membuat proses kreatif kita mengalir organik,” ungkap Barry. Ia juga menambahkan bahwa lagu ini menyimpan easter egg bagi pendengar setia yang sudah mengikuti perjalanannya sejak lama—sentuhan groove dan bassline yang akan terasa familiar bagi mereka yang kenal dekat dengan musik Barry dan YTTA.
Diego Xoxa mengangkat dimensi yang lebih dalam dari kolaborasi ini—bahwa “Jalan di Bawah” bukan sekadar lagu perjalanan fisik, melainkan perayaan persaudaraan yang sangat khas Timur Indonesia:
“Yang perlu di-highlight dari lagu ini adalah melakukan suatu hal bersama itu menggambarkan kami orang Timur yang selalu menganggap semua orang basudara atau saudara, karena saudara kita jalan bersama saling support,” ujar Diego.
Sementara Grizzly Cluive menggambarkan keseluruhannya dengan cara yang paling spontan dan penuh semangat:
“Bajalang di bawah, sebuah tiba-tiba kolaborasi yang bikin harus turun bajalang, bagoyang, badendang! Semoga jadi hal baik.”
Musik Timur yang Merayakan dan Mengajak Bergerak
Secara musikal, “Jalan di Bawah” memadukan groove bass khas Barry dengan sentuhan ritmis Timur Indonesia dalam aransemen modern yang enerjik namun tetap hangat. Produksi digarap oleh Muhammad Haekal, dengan Varian Simorangkir mengisi gitar dan Abror Samdya di drum—yang juga menangani proses mixing dan mastering.
Karakter vokal Diego Xoxa yang berkarakter berpadu dengan rap khas Grizzly menciptakan dinamika yang memperkuat nuansa persaudaraan di sepanjang lagu. Dan di atas semuanya, groove bass Barry tetap menjadi jangkar—frekuensi bawah yang menopang segalanya dari bawah, persis seperti yang selalu ia lakukan selama dua dekade.
Lagu ini juga, seperti yang Christian Bong catat, ikut merayakan gerakan Timurnesia yang sedang dipopulerkan oleh musisi-musisi muda dari Indonesia Timur—sebuah momentum yang membuat “Jalan di Bawah” terasa tidak hanya personal, tapi juga bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Dua Puluh Tahun, Satu Langkah di Satu Waktu
“Kadang kita terlalu sibuk ngeliat ke atas, mengejar yang jauh, sampai lupa mensyukuri pijakan kita di bawah,” kata Barry.
Dua puluh tahun perjalanan, dan pesan yang dipilih untuk merayakannya adalah ini: nikmati prosesnya, rayakan langkah-langkah kecil, dan biarkan groove bergerak. Tidak ada yang lebih Barry Likumahuwa dari itu.
“Jalan di Bawah” kini tersedia di seluruh platform streaming digital.


