Pusakata dan Haddad Alwi Rilis “Menghitung”, Pengingat bahwa Ada Cinta yang Tidak Bisa Diukur dengan Angka

Ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa dijumlahkan, tidak bisa dikuantifikasi, dan tidak akan pernah cukup kalau dicoba dimasukkan ke dalam tabel atau persamaan. Kasih sayang. Kedamaian. Pengampunan. Cinta Tuhan. Pusakata dan Haddad Alwi membangun “Menghitung” di atas kesadaran itu—sebuah single kolaborasi yang dirilis pada 10 April 2026, mengajak pendengar untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dan merenungkan apa yang benar-benar hadir dalam setiap langkah kehidupan.


Dua Nama, Satu Harmoni yang Terasa Utuh

Pertemuan antara Pusakata dan Haddad Alwi adalah pertemuan dua kekuatan yang saling melengkapi dengan cara yang terasa alami. Pusakata dikenal dengan kemampuan storytelling-nya yang kuat dan aransemen akustik yang emosional—musik yang selalu berhasil membuat pendengar merasa diajak masuk ke dalam sebuah cerita, bukan hanya mendengarnya dari luar. Sementara Haddad Alwi membawa nuansa spiritual yang mendalam dan hangat, sebuah kualitas yang sudah lama menjadi ciri khasnya dalam perjalanan musiknya.

Dua pendekatan yang berbeda, namun dalam “Menghitung” keduanya bertemu di titik yang sama: kejujuran tentang betapa kecilnya manusia di hadapan cinta yang tidak terbatas, dan betapa cinta itu tetap hadir—dalam terang maupun gelap.


Tidak Semua yang Berarti Bisa Dihitung

“Menghitung” lahir dari sebuah paradoks yang sangat manusiawi: kita hidup di dunia yang terobsesi dengan angka—pencapaian, waktu, produktivitas—namun hal-hal yang paling berarti dalam hidup justru tidak bisa diukur dengan cara itu.

Melalui lirik yang puitis dan mendalam, lagu ini mengajak pendengar untuk menyadari bahwa kasih sayang, pengampunan, dan rahmat Tuhan adalah sesuatu yang selalu hadir, jauh sebelum kita menyadarinya dan jauh setelah kita melupakannya. Ia tidak menunggu untuk dihitung. Ia hanya ada—terus-menerus, tanpa syarat.

Pesan itu tidak disampaikan dengan cara yang menggurui. “Menghitung” hadir dengan ketenangan yang justru memberi ruang bagi pendengar untuk menemukan maknanya sendiri.


Akustik yang Intim, Suasana yang Reflektif

Secara musikal, “Menghitung” memilih jalan yang paling sesuai dengan pesannya: aransemen akustik yang lembut dan intim, yang menciptakan ruang reflektif tanpa harus berteriak untuk didengar. Tidak ada lapisan produksi yang berlebihan. Tidak ada ornamen yang tidak perlu. Hanya kejujuran musikal yang membiarkan lirik dan harmoni berbicara langsung ke pendengarnya.

Hasilnya adalah lagu yang terasa seperti percakapan yang tenang—bukan ceramah, bukan khotbah—melainkan ajakan duduk bersama dan merenungkan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.


Untuk Momen yang Paling Membutuhkan Ketenangan

Pusakata dan Haddad Alwi merancang “Menghitung” sebagai teman—bukan hanya untuk didengar sekali lalu dilupakan, melainkan untuk hadir di momen-momen yang paling membutuhkan ketenangan: ketika seseorang sedang mencari pegangan, ketika pikiran terlalu penuh, atau ketika yang dibutuhkan hanyalah pengingat sederhana bahwa ada cinta yang tidak pernah benar-benar pergi.

Lagu ini tidak membatasi dirinya hanya untuk pendengar dengan latar belakang tertentu. Seperti cinta yang menjadi temanya, “Menghitung” hadir untuk semua—relevan bagi siapa pun yang pernah berhenti dan bertanya: dari semua yang sudah berlalu, apa yang benar-benar tersisa?

Single “Menghitung” kini tersedia di seluruh platform streaming digital.

Scroll to Top