BLUMS Rilis “Biru”, Ketika Rindu Tidak Perlu Disembuhkan—Hanya Perlu Diterima

Ada jenis kerinduan yang tidak pergi meski sudah dicoba untuk dilupakan. Ia tinggal, menetap, dan pada titik tertentu seseorang belajar bahwa mungkin memang tidak perlu mengusirnya. BLUMS menangkap fase itu dalam single terbaru bertajuk “Biru”—yang resmi hadir di seluruh platform musik digital sejak 24 April—sebuah lagu yang memilih untuk merayakan rindu, bukan menyembuhkannya.


Berteriak dalam Diam Sebagai Bentuk Validasi

“Biru” tidak datang dengan solusi. Ia datang dengan pengakuan—bahwa ada kerinduan yang memang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup, dan menerimanya bukan berarti kalah.

BLUMS mengungkapkan kerentanan itu dengan cara yang tidak malu-malu, lewat lirik yang puitis namun langsung menghujam:

“Aku bernyanyi walau tak terdengar. Terus bernyanyi lantang dalam diam.”

Ini bukan tentang rindu yang mencari resolusi. Ini tentang rindu yang dilepaskan—disuarakan bahkan ketika tidak ada yang mendengar—dan menemukan bahwa tindakan itu sendiri sudah cukup bermakna.


Waktu Bukan Musuh, Melainkan Bahan Bakar

Yang membuat “Biru” terasa lebih dari sekadar lagu nostalgia adalah cara ia membedah kerinduan di lapisan yang lebih dalam. Jika kebanyakan lagu memposisikan waktu sebagai sesuatu yang menyembuhkan luka, BLUMS melihatnya secara berbeda—waktu yang dihabiskan dalam penantian justru menjadi yang memperkuat rasa rindu itu sendiri.

Bagian chorus lagu ini menegaskan itu dengan sangat kuat:

“Kubunuh waktu yang mencuri rinduku. Hingga tiba saatnya ku memelukmu. Dalam doaku ada namamu.”

Sebuah pernyataan yang paradoks namun terasa sangat jujur: waktu yang terasa mencuri momen kebersamaan, pada saat yang sama menjadi bahan bakar bagi kerinduan yang terus membara—dan nama yang terus hidup dalam doa adalah bukti bahwa rindu itu tidak pernah benar-benar pergi ke mana pun.


Mesin Waktu ke Era Yearning Masa Sekolah

Secara musikal, “Biru” adalah pengalaman yang sangat disengaja dalam hal nostalgia. Egie di vokal dan gitar, Gege di lead guitar, Variant di drum, dan Kris di bass dan vokal—bersama-sama membangun lagu dengan riff gitar yang catchy dan ketukan drum berenergi tinggi yang langsung membawa pendengar kembali ke era musik yearning masa sekolah—ketika perasaan terasa paling intens dan paling susah dijelaskan.

Namun jangan terkecoh oleh temponya yang cepat dan bertenaga. Di setiap sudut “Biru”, nuansa melankolis tetap hadir dengan kuat—seperti lapisan di bawah permukaan yang selalu terasa meski tidak selalu terlihat. Vokal yang meledak di bagian chorus bukan sekadar momen musikal, melainkan representasi dari teriakan batin yang sudah tidak bisa lagi dibendung.


Untuk Perjalanan Malam yang Sendirian

“Biru” adalah lagu yang tahu di mana ia paling kuat didengarkan. Saat berkendara sendirian di bawah langit malam, ketika lampu-lampu kota bergerak di luar jendela dan pikiran mulai melayang ke tempat-tempat dan orang-orang yang sudah lama tidak dikunjungi. Atau sekadar menjadi teman merenungi kenangan yang tidak kunjung usai—kenangan yang tidak selalu menyakitkan, hanya tidak bisa sepenuhnya dilepaskan.

BLUMS tidak menjanjikan bahwa setelah mendengar lagu ini semua akan terasa lebih baik. Mereka hanya menawarkan sesuatu yang mungkin lebih berharga: rasa bahwa perasaan itu valid, dan rindu yang tidak pergi bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan.

Single “Biru” dari BLUMS kini tersedia di Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan seluruh platform musik digital lainnya.

Scroll to Top