Musisi dan penulis puisi Bhima Priantoro, yang kini menggunakan nama panggung BHIMA, resmi merilis EP perdananya bertajuk “Swarupa Swara”. Mini album ini merupakan adaptasi dari sejumlah puisi yang sebelumnya terbit dalam buku “Suara Racau Suara Risau” (2020), menghadirkan karya yang puitis namun tetap mudah dinikmati dalam balutan genre pop ballad dengan sentuhan upbeat ringan dan dreamy pop yang catchy.

Secara konseptual, Swarupa Swara bukan sekadar kumpulan lagu. Judulnya memiliki makna mendalam: Swarupa berarti bentuk sejati atau hakikat diri, sementara Swara berarti suara atau getar eksistensi. Keduanya berpadu menjadi makna “suara yang membentuk identitas pribadi”, tentang orang tua, pasangan hidup, anak, inner child, hingga masa lalu yang membentuk diri di masa kini dan mendatang.
Perjalanan Naratif dalam Enam Bab Kehidupan
EP ini disusun secara konseptual sebagai perjalanan emosional yang runtut. Enam lagu di dalamnya bukan sekadar track, melainkan bab yang saling terhubung.
EP dibuka dengan “Kelak Engkau”, lagu yang ditujukan untuk anak-anak di masa depan. Alih-alih memberi instruksi, lagu ini hadir sebagai doa yang lembut dan reflektif. Lirik seperti “bagai hujan di tanah tandus” dan “sajak tak akan usai” menegaskan karakter puitik BHIMA tanpa kehilangan musikalitas.
Berlanjut ke “Serenade (untuk Ayah)”, sebuah surat emosional untuk almarhum ayah. Lagu ini berbicara tentang kehilangan, namun tidak tenggelam dalam melodrama. Reff “Ku bisa jadi apapun yang aku mau” menjadi warisan nilai yang ditanamkan seorang ayah kepada anaknya, tentang keyakinan dan keberanian.
Di “Kumengenalmu Lewat Impian Sewindu”, BHIMA menghadirkan kisah cinta untuk sang istri. Romantika yang ditampilkan terasa matang dan stabil, bukan cinta impulsif. Frasa “impian sewindu” menjadi simbol kesabaran dan pertemuan yang telah lama dipersiapkan waktu.

Lagu “Perempuan Itu” menjadi penghormatan untuk ibunda. Dengan lirik kuat seperti “dia menukar luka dunia dengan doa dan tetes air matanya”, BHIMA menggambarkan sosok ibu sebagai fondasi kasih yang tak tergantikan.
Memasuki ranah yang lebih personal, “Meracau, Merisau” mengangkat dialog dengan inner child dan kegelisahan batin. Lagu ini menghadirkan refleksi tentang kesehatan mental dan keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri.
EP ditutup dengan “Tak Ada Hati yang Tertinggal Di Sini”, sebuah pernyataan penerimaan dan kedewasaan emosional. Lagu ini menjadi ritus pelepasan terhadap masa lalu, tanpa dendam dan tanpa romantisasi luka.
Elegi Kehidupan yang Ditulis dengan Ketulusan
Di tengah lanskap musik yang kerap mengejar tren dan algoritma, Swarupa Swara hadir sebagai karya yang jujur dan personal. Secara lirik, album ini konsisten puitik dan bernilai sastra. Secara musikal, ia tetap ramah didengar melalui balutan pop ballad yang emosional dengan sentuhan dreamy pop yang ringan.

BHIMA menempatkan dirinya bukan hanya sebagai musisi, tetapi sebagai pencerita dan arsiparis perasaan manusia, mencatat relasi vertikal (orang tua dan anak), relasi horizontal (pasangan), hingga relasi paling intim: dialog dengan diri sendiri.
Swarupa Swara adalah EP yang tidak hanya layak didengar, tetapi juga direnungkan.
Dengarkan “Swarupa Swara”
EP Swarupa Swara sudah tersedia di berbagai platform streaming digital:
YouTube Music
https://music.youtube.com/channel/UCof99DahUSmwtu3ZJCxP3Lw?si=SvXJZenwLwKUOD5M
YouTube Playlist
https://www.youtube.com/playlist?list=OLAK5uy_mI9uf2fJUvMRFqPxsaN2qZY4IHDmKfi0c
Apple Music
https://music.apple.com/id/album/swarupa-swara-ep/1866150023?l=id
Spotify
https://open.spotify.com/album/4DvV3iMzB8XbEDhop9KHs5?si=qhL-1Gt5Qvih-upa3QEieA


