Kabar baik datang dari Kota Surakarta. Taman Gesang, kawasan yang menjadi penghormatan bagi sang maestro keroncong Indonesia, akan segera direvitalisasi — dan yang menarik, tidak ada dana APBD yang akan digunakan sama sekali dalam proyek ini.

Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mengungkapkan rencana revitalisasi ini setelah menerima audiensi dari para penggiat dan pecinta karya Gesang asal Jepang. Sejumlah perusahaan Jepang, termasuk Panasonic, menyatakan kesiapan mereka untuk berpartisipasi dalam penataan kawasan Taman Gesang. Selain dari Jepang, perusahaan swasta dalam negeri juga akan ikut terlibat dalam pembiayaan.
Gesang dan Hubungannya dengan Jepang
Keterlibatan Jepang dalam revitalisasi ini bukan tanpa alasan. Gesang, atau lengkapnya Gesang Martohartono, adalah maestro keroncong Indonesia yang lahir di Surakarta pada 1 Oktober 1917. Ia dikenal luas sebagai pencipta lagu “Bengawan Solo” yang pertama kali direkam pada 1940 — lagu yang kemudian menjadi salah satu lagu Indonesia paling dikenal di dunia, termasuk di Jepang.
Popularitas “Bengawan Solo” di Jepang begitu besar hingga lagu ini pernah masuk tangga lagu di sana pada era 1950-an. Sejak saat itu, Gesang dan karyanya memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Jepang. Hubungan emosional inilah yang mendorong sejumlah perusahaan dan penggiat budaya Jepang untuk turut ambil bagian dalam pelestarian warisan sang maestro.
Bukan Membangun dari Nol
Respati Ardi menegaskan bahwa revitalisasi ini bukan untuk membangun sesuatu yang berlebihan atau mengubah karakter kawasan secara drastis. Pemkot Solo justru ingin mengembalikan kawasan Taman Gesang sesuai kondisi aslinya — menjaga nilai historis dan warisan budaya yang melekat pada nama Gesang.
“Saya memohon bantuan untuk bisa merevitalisasi daerah di Taman Gesang. Dan luar biasa dari Jepang ini, dari perusahaan Panasonic dan beberapa perusahaan Jepang yang sangat mengapresiasi hasil karya sang maestro Gesang,” kata Respati Ardi.
Ia juga memastikan bahwa revitalisasi ini akan dilakukan dengan memperhatikan keaslian dan nilai budaya yang sudah ada — bukan sekadar proyek pembangunan fisik semata.
Tanpa Sentuh APBD
Salah satu hal yang menonjol dari rencana ini adalah skema pembiayaannya. Seluruh dana revitalisasi akan bersumber dari kontribusi perusahaan Jepang dan swasta dalam negeri — tanpa menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kota Surakarta.
Langkah ini menjadi contoh menarik bagaimana pelestarian warisan budaya bisa dilakukan melalui sinergi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan komunitas internasional yang mencintai karya seni Indonesia.
Gesang, Warisan yang Hidup
Gesang meninggal dunia pada 20 Mei 2010 dalam usia 92 tahun. Namun warisannya terus hidup — tidak hanya melalui “Bengawan Solo” yang masih dinyanyikan lintas generasi dan lintas negara, tapi juga melalui upaya pelestarian seperti revitalisasi Taman Gesang ini.
Bagi Kota Surakarta, Taman Gesang bukan sekadar ruang terbuka hijau. Ini adalah monumen hidup bagi seorang musisi yang telah membawa nama Indonesia ke panggung dunia lewat sebuah lagu tentang sungai.


