Menganggapi Polemik yang Sedang Ramai, Founder Prambanan Jazz Angkat Suara: “Maafkan Kami yang Selalu Bersalah Setiap Juli.”

Anas Alimi beri tanggapan menohok soal kritik tahunan “mana jazz-nya” di Prambanan Jazz Festival

Jakarta, 11 Juli 2025 – Anas Alimi, pendiri Prambanan Jazz Festival, akhirnya angkat bicara terkait kritik tahunan terhadap festival musik yang dipimpinnya. Dalam dua unggahan panjang yang diunggah di media sosialnya, Anas menjawab polemik soal “kurangnya jazz” dalam line-up Prambanan Jazz yang selama ini menuai komentar pro dan kontra dari berbagai kalangan.

“Maafkan Kami yang Selalu Bersalah Setiap Juli,” tulis Anas—menyentil komentar yang datang saban tahun.

Jazz sebagai payung besar, bukan batas sempit

Anas membandingkan Prambanan Jazz dengan festival jazz internasional seperti North Sea Jazz, Montreux, dan Umbria Jazz yang turut menghadirkan musisi lintas genre. Ia mengutip kutipan legendaris dari Miles Davis: “Jazz is the big umbrella” untuk menunjukkan bahwa jazz bukanlah genre yang eksklusif, melainkan ruang improvisasi yang terbuka dan dinamis.

Ia menekankan bahwa festival bukan hanya soal genre, tetapi juga soal keberlanjutan ekosistem—dari crew, UMKM, hingga pekerja panggung yang menggantungkan hidup dari industri ini.

Prambanan Jazz bukan kamus, tapi ruang temu

Dalam pernyataan lainnya yang diberi judul “Menggugat Prambanan Jazz”, Anas menyampaikan bahwa Prambanan Jazz bukanlah panggung untuk mempertahankan gengsi genre, melainkan ruang tamu bagi musik dari berbagai latar belakang untuk bertukar cerita.

“Kalau kami menghadirkan Kenny G, itu bukan karena kami tak mengerti Coltrane. Tapi karena Kenny G pernah jadi mimpi anak-anak 90-an,” tulisnya.

Menurut Anas, kritik “mana jazz-nya?” lebih mencerminkan kehilangan selera humor terhadap perkembangan musik hari ini. Ia menyebut bahwa jazz sejatinya tumbuh lewat keberanian melawan pakem.

Sebuah ajakan untuk memahami kompleksitas festival masa kini

Lewat dua pernyataan ini, Anas Alimi mengajak publik untuk tidak sekadar melihat festival musik sebagai agenda estetika, tetapi juga sebagai ruang budaya yang luas dan kompleks. Ia menutup dengan pesan bahwa kompromi dalam penyelenggaraan festival bukanlah bentuk pengkhianatan, melainkan cara untuk tetap bertahan.

“Biarkan Candi Prambanan menjadi saksi bahwa musik tak pernah lahir untuk dikotak-kotakkan. Ia lahir untuk menyatukan,” tutupnya.

Scroll to Top