Konferensi Musik Indonesia 2026 Hadir di Makassar: 6 Hari, 25 Topik, Satu Agenda Besar untuk Musik Indonesia

Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 akan digelar di Makassar pada 27 Oktober hingga 1 November 2026 — enam hari penuh yang menempatkan kota ini sebagai pusat percakapan terbesar soal masa depan industri musik Indonesia.

Ini bukan seminar biasa. KMI adalah forum nasional yang diamanatkan oleh UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan — sebuah mekanisme resmi tempat musisi, label rekaman, pemerintah, akademisi, komunitas, dan mitra internasional duduk bersama untuk merumuskan kebijakan konkret bagi ekosistem musik Indonesia.

Tahun ini, KMI mengambil tema “Gerak Seirama” — sebuah pernyataan bahwa kemajuan industri musik Indonesia tidak bisa datang dari satu arah saja, melainkan dari gerakan bersama seluruh elemennya.


Angka yang Bicara Lebih Keras dari Tagline

Sebelum membahas apa yang akan terjadi di dalam ruang konferensi, ada baiknya kita lihat dulu mengapa forum seperti KMI perlu ada.

Industri musik Indonesia bukan industri kecil. Di 2024, perputaran uang dari konser saja mencapai Rp178 triliun. Sektor ekonomi kreatif yang di dalamnya termasuk musik menyerap 20,9 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia. Angka-angka ini menempatkan musik sebagai salah satu sektor budaya dengan dampak ekonomi terbesar di negara ini.

Tapi ekosistemnya masih jauh dari merata. Royalti masih menjadi perdebatan yang belum tuntas. Regulasi soal AI dan database musik baru mulai disentuh. Musisi di luar Jawa masih sulit mengakses jejaring yang sama seperti yang tersedia di Jakarta. Venue-venue musik di berbagai daerah belum memiliki standar yang jelas. Ekspor musik Indonesia ke pasar internasional belum berjalan sistematis.

KMI ada persis untuk merespons semua itu — bukan hanya sebagai ruang diskusi, tapi sebagai mekanisme untuk menghasilkan rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti oleh pemerintah dan industri.


Apa yang Akan Dibahas Selama Enam Hari

KMI 2026 akan membahas 25 klaster isu yang dibagi dalam enam hari agenda.

Hari pertama, Selasa 27 Oktober, adalah hari kedatangan dan pembukaan resmi — delegasi nasional dan internasional berkumpul di Hotel Claro Makassar untuk membuka KMI 2026 secara resmi.

Rabu 28 Oktober menjadi hari yang kemungkinan akan paling banyak dibicarakan: forum membuka diskusi soal royalti musik, regulasi AI dan infrastruktur database musik (dengan keynote dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital), musik dan film, serta pendidikan musik. Hari ini juga akan ada sesi internasional bersama WIPO lewat CLIP Music Workshop.

Kamis 29 Oktober membahas isu-isu yang lebih dekat ke infrastruktur dan kesejahteraan: venue musik, potensi ekonomi industri, model dukungan untuk industri musik, ekspor musik, kesejahteraan musisi, dan perempuan dalam industri musik. Hari ini menghadirkan keynote dari Kementerian Tenaga Kerja dan Tony Wenas (PAPPRI).

Jumat 30 Oktober memasuki wilayah yang lebih beragam: musik religi, jejaring musik Asia, musik tradisi, dan perizinan event musik — termasuk Sesi Pleno KMI 2026 untuk perumusan rekomendasi dan penandatanganan Memorandum of Conference.

Sabtu dan Minggu, 31 Oktober–1 November, konferensi berpindah ke Fort Rotterdam dengan format yang lebih terbuka untuk publik: jejaring musik Asia, distribusi musik, produksi musik, kurasi musik, manajemen event, dan relasi penggemar — dalam format workshop dan public talk yang bisa diakses lebih luas.


Delegasi Internasional dan Jejaring Global

KMI 2026 menghadirkan 17 delegasi internasional dari berbagai negara. Di antaranya Mohammad Hydhir dari Baybeats & Esplanade (Singapura), Johnie Moylet dari Fuji Rock Festival (Jepang), Joff Cruz dari AXEAN & Swan Zoo (Filipina), Esti Zilber dari Sounds Australia (Australia), dan Takashi dari Music Lane Festival Okinawa (Jepang).

Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap agenda. Mereka akan terlibat langsung dalam sesi speed meeting dengan delegasi Indonesia, listening session, dan diskusi soal masa depan jejaring musik Asia — termasuk peluang ekspor musik Indonesia ke pasar Jepang, Australia, dan Asia Tenggara.


Skala yang Belum Pernah Ada Sebelumnya

Secara keseluruhan, KMI 2026 akan berlangsung di dua venue (Hotel Claro Makassar dan Fort Rotterdam), melibatkan lebih dari 500 delegasi, menyelenggarakan 8 Konferensi Besar, 16 Sesi Paralel, 8 Program Publik, dan 3 Festival & Showcase. Estimasi pengunjung publik yang hadir sepanjang rangkaian acara ini mencapai lebih dari 30.000 orang.

Delapan format kegiatan yang akan berjalan selama KMI 2026 mencakup Konferensi Utama, Kelas Intensif, Sesi Internasional, Pertemuan Cepat, Bincang Publik, Sesi Dengar Karya, Lokakarya Publik, hingga Festival Musik dan Panggung Karya.


Kenapa Makassar

Pilihan Makassar sebagai tuan rumah KMI 2026 bukan keputusan administratif semata. Makassar adalah hub Indonesia Timur — pintu masuk menuju Papua, Manado, Maluku, dan NTT — wilayah-wilayah yang selama ini jarang menjadi pusat percakapan industri musik nasional.

Dengan dukungan penuh dari Wali Kota Makassar, KMI 2026 membawa konferensi musik terbesar Indonesia ke timur sebagai pernyataan bahwa pemerataan ekosistem musik tidak bisa terus menunggu. Industri musik Indonesia tidak hanya terjadi di Jakarta — dan KMI 2026 memilih untuk membuktikannya dengan hadir langsung di sana.


Apa yang Diharapkan dari KMI 2026

KMI 2026 datang dengan tiga mandat utama: evaluasi tindak lanjut 15 rekomendasi dan 9 Tim Kerja dari KMI 2025, percepatan implementasi dari kertas ke lapangan, dan perluasan ekosistem musik nasional ke Indonesia Timur.

Keluaran strategis yang diharapkan dari forum ini mencakup Laporan Komprehensif 9 Tim Kerja, Memorandum of Conference (MoC) KMI 2026, Peta Jaringan & Export Music Office, serta Rekam Jejak Digital dari seluruh rangkaian kegiatan.

Konferensi Musik Indonesia 2026 adalah forum di mana percakapan soal masa depan musik Indonesia tidak hanya terjadi — tapi (semestinya) menghasilkan sesuatu.

Scroll to Top