Gabriela Fernandez memilih momen yang tepat untuk memperkenalkan dirinya dengan nama baru. Di bawah nama panggung INALEAH, musisi dan seniman Indonesia ini menggelar konser solo perdananya di London — Sarasando: From Feelings to Sound — pada 3 Oktober 2026 di Hackney, sebagai puncak dari rangkaian penampilan yang telah berlangsung sejak Agustus 2026.
Sebuah malam yang membawa Nusa Tenggara Timur ke hadapan penonton lintas negara, melalui bunyi, cerita, dan kebersamaan.

Sasando, dan Nama yang Mengandung Makna Ganda
Di pusat pertunjukan ini adalah Sasando — alat musik tradisional dari Pulau Rote, NTT — yang INALEAH pelajari selama residensi bersama musisi neo-tradisi Ivan Nestorman. Instrumennya sendiri ia beri nama Sarasando, sebuah nama yang sekaligus menjadi judul seri konser ini.
Terinspirasi dari ungkapan “saya rasa” — yang dalam bahasa Indonesia dapat berarti baik “saya merasa” maupun “saya berpikir” — konser ini mengeksplorasi hubungan antara perasaan dan bunyi, serta menghadirkan ruang untuk mengekspresikan perasaan individu maupun kolektif. Sebuah konsep yang terasa sangat personal sekaligus terbuka bagi siapa saja yang hadir.
Kembali Setelah Tiga Tahun, dengan Arah yang Baru
Sarasando hadir tiga tahun setelah Gabriela mengambil jeda dari kegiatan bermusik di Indonesia untuk melanjutkan studi di Royal College of Art, London, melalui beasiswa LPDP. Ia lulus pada 2024, setelah memperluas praktiknya sebagai musisi, seniman visual, dan fasilitator kegiatan seni untuk mendukung kesehatan mental.
Ini bukan sekadar comeback. INALEAH datang dengan arah kreatif yang lebih luas dari sebelumnya — dan nama barunya adalah pernyataan tentang siapa ia sekarang. Sebelumnya, Gabriela sudah merilis album dan meraih nominasi AMI Awards 2021 lewat lagu “On a Sailboat Beneath the Sky”.
Konser yang Mengajak Penonton Menjadi Bagian dari Cerita
Yang membuat Sarasando terasa berbeda adalah pendekatannya yang partisipatif. Salah satu lagu utama, “Little Things She’s Proud of”, melibatkan penonton dalam pembentukan liriknya — pengalaman personal mereka yang hadir menjadi bagian dari lagu yang dibawakan malam itu.
“Dolo Elele Elea” — yang dikembangkan bersama anak-anak di Taman Daun, Lembata — melibatkan penonton dari berbagai belahan dunia dalam pengalaman yang sama. Sementara “Benggong” hadir sebagai lagu tradisional pertama yang INALEAH pelajari menggunakan Sasando, dan “Bicara Dewasa” dari album pertamanya dibawakan dalam versi bahasa Inggris untuk membuka perjumpaan baru dengan pendengar internasional.
Materi pertunjukan berakar pada riset dan perjalanan INALEAH di NTT — termasuk perjumpaannya dengan mama-mama penenun di Adonara, serta eksplorasi tari Dolo dan Sole Oha bersama anak-anak di Taman Daun.
Congklak, Kain Tenun Sumba, dan Manggulu dari NTT

Untuk edisi perdana Sarasando, INALEAH berkolaborasi dengan Congklak Social Club — komunitas diaspora muda Indonesia yang menghadirkan ruang pertemuan melalui permainan tradisional. Permainan congklak menjadi cara pengunjung untuk berkenalan dan membangun kebersamaan, disertai sajian khas NTT berupa Manggulu dan Ubi Nuabosi.
Konser ini juga melibatkan Juandito Berel sebagai pemain Sasando tradisional, serta Raing McCullagh yang menghadirkan kain tenun asli Sumba sebagai bagian dari cerita pertunjukan.
Sebagai bagian dari misinya yang lebih luas, INALEAH juga menghadirkan penggalangan dana melalui penjualan karya seni — dengan sebagian hasil yang direncanakan untuk mendukung kegiatan seni partisipatif bagi anak-anak di Flores, NTT yang terdampak gempa bumi.
Dari Hackney untuk Dunia
Konser ini mendapat perhatian yang tidak kecil — beritanya dibagikan melalui akun personal Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar dan akun resmi Kedutaan Besar Indonesia di London. Dan respons dari penonton yang hadir berbicara sendiri: “I feel homey”, ungkap salah seorang yang menyaksikan malam itu.
Melalui Sarasando, INALEAH berharap dapat memperluas perjumpaan publik internasional dengan karya seniman muda Indonesia, memperkenalkan budaya NTT, dan membuka lebih banyak ruang kolaborasi bagi diaspora muda Indonesia. Seri ini akan berlanjut di berbagai tempat, dengan bentuk yang berkembang sesuai kolaborator dan komunitas yang terlibat.
Ikuti perjalanan INALEAH selanjutnya di @itsinaleah dan @artwithinaleah.


