Gramofon Pemutar Lagu “Indonesia Raya” dari Masa Kolonial Dihibahkan ke Museum Sumpah Pemuda

Peninggalan Yo Kim Tjan, Saudagar Tionghoa yang Punya Peran dalam Sejarah Rekaman Lagu Kebangsaan

Jakarta, 9 Juli 2025 – Sebuah gramofon bersejarah yang pernah digunakan untuk memutar lagu “Indonesia Raya” di masa kolonial resmi dihibahkan kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Acara serah terima dilakukan pada Selasa (8/7) di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, dan diserahkan langsung oleh Sutjitra Djaja Pranawa, cucu dari mendiang Yo Kim Tjan, kepada Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.

Gramofon ini bukan sekadar alat pemutar musik, tetapi juga saksi bisu dari perjuangan bangsa Indonesia. Pada tahun 1930-an, alat ini menjadi salah satu medium pertama yang memutar piringan hitam berisi lagu “Indonesia Raya”, di tengah larangan ketat dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.

“Gramofon ini bukan hanya alat musik, tetapi saksi sejarah yang menggabungkan teknologi, budaya, dan semangat perjuangan nasional,” ujar Sutjitra.

Yo Kim Tjan dan Peran Awal dalam Rekaman Lagu Kebangsaan

Yo Kim Tjan (1899–1968), dikenal sebagai saudagar Tionghoa dan kolektor benda langka, memainkan peran penting dalam sejarah rekaman lagu “Indonesia Raya”. Ia merupakan pemilik studio Electric Recording Yo Kim Tjan, tempat rekaman awal lagu kebangsaan tersebut dilakukan pada 1927.

Kontribusi Yo Kim Tjan dianggap sebagai salah satu bentuk nyata peran warga keturunan Tionghoa dalam perjuangan kemerdekaan dan pelestarian budaya nasional. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi hibah ini sebagai hadiah sejarah menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia.

“Kami berharap benda-benda bersejarah seperti ini melengkapi narasi sejarah Indonesia, terutama di Museum Sumpah Pemuda,” ucap Fadli Zon.

Menjaga Memori Kolektif untuk Generasi Mendatang

Gramofon ini kini menjadi bagian dari koleksi Museum Sumpah Pemuda dan diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda. Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha yang turut hadir menyampaikan bahwa benda ini memiliki nilai naratif penting dan memperkaya sejarah bangsa.

“Semakin banyaknya generasi muda yang datang ke museum menunjukkan bahwa museum kini telah menjadi ruang inklusif bagi semua kalangan,” kata Giring.

Sutjitra juga menambahkan, hibah ini merupakan bentuk penghormatan kepada sang kakek sekaligus upaya merawat memori kolektif bangsa.

“Setelah generasi kami tiada, saya tidak tahu siapa lagi yang bisa menceritakan kisah ini. Karena itu, biarlah benda ini bercerita,” tuturnya.

Scroll to Top