Dari Angklung hingga Bambu: Dua Wajah Tradisi yang Hadir di Music Market Indomusik Talk 2026

Tradisi tidak selalu berarti diam di tempat. Dua tenant yang hadir di Music Market, Indomusik Talk 2026 — Indo Angklung Gram dan VirageAwie — membuktikan bahwa kekayaan budaya Indonesia bisa terus tumbuh dan menemukan bentuk barunya, tanpa kehilangan akarnya.

Indomusik Talk 2026 sendiri digelar Indomusikgram pada 25 Juni 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, mengusung tema #LokalBersuara: Tradisi dalam Pop.

Indo Angklung Gram: Angklung di Era Digital

Angklung sering dianggap identik dengan satu ruang saja: pertunjukan budaya, festival sekolah, atau acara seremonial. Indo Angklung Gram punya visi untuk membuktikan bahwa angklung bisa lebih dari itu.

Komunitas dan platform kreatif ini digagas oleh Manshur Praditya, musisi yang dikenal lewat eksplorasinya memadukan angklung dengan genre musik modern seperti EDM, pop, dan musik digital. Lewat visi “Bring Angklung to the Next Level”, ia membawa instrumen tradisional ini mendekat ke generasi muda — bukan dengan meninggalkan akarnya, tapi dengan menemukan bentuk baru yang relevan dengan zaman.

Di balik panggung dan kontennya, Indo Angklung Gram aktif membuat aransemen lagu modern menggunakan angklung, mengadakan workshop dan edukasi, hingga memproduksi dan menginovasi instrumen angklung agar bisa dimainkan oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

VirageAwie: Dari “Hanya Bambu” Menjadi Produk Bernilai Tinggi

Nama VirageAwie berasal dari ungkapan bahasa Sunda “pirage awi” atau “pira ge awi”, yang secara harfiah berarti “hanya bambu” — awalnya merupakan sindiran terhadap nilai ekonomi bambu yang dianggap rendah. Justru dari situlah pendirinya, Adang Muhidin, menjadikannya sebagai identitas untuk membuktikan sebaliknya.

Dirintis sejak 2011–2012 di Cimareme, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, VirageAwie berawal dari eksperimen membuat alat musik berbahan bambu, dan kini berkembang menjadi ekosistem bisnis kreatif berbasis bambu — mulai dari gitar, bass, biola, hingga jam tangan dan produk interior. Salah satu produk ikonik mereka, gitar bambu, telah digunakan oleh musisi seperti Iwan Fals dan Balawan, serta tampil di festival musik seperti Java Jazz Festival.

Lebih dari sekadar produsen kerajinan, VirageAwie juga aktif memberdayakan masyarakat sekitar, termasuk kelompok perempuan dan penyandang disabilitas, melalui pelatihan keterampilan dan kesempatan kerja. Produk-produk mereka kini telah dipasarkan ke berbagai negara, termasuk Malaysia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Inggris.

Dua Cerita, Satu Semangat

Indo Angklung Gram dan VirageAwie datang dari jalan yang berbeda — satu dari instrumen tradisional yang dipadukan dengan musik digital, satu dari material lokal yang diolah menjadi produk bernilai tinggi. Namun keduanya menunjukkan hal yang sama: bahwa tradisi Indonesia punya tempat di masa depan, asal diberi ruang untuk terus berkembang.

Pengunjung Indomusik Talk 2026 dapat mengunjungi booth kedua tenant ini di Music Market untuk melihat dan merasakan langsung karya mereka.


Indomusik Talk 2026 25 Juni 2026 | Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat Instagram: @indomusiktalk | @indomusikgram

Scroll to Top