27 Anggota Paduan Suara Wanita Kepri Gagal ke Pesparawi Nasional, Diduga Jadi Korban Tiket Bodong

Dua tahun berlatih, anggaran Rp1,4 miliar sudah dikucurkan — tapi 27 anggota Paduan Suara Wanita (PSW) Kepulauan Riau justru berakhir terlantar di Bandara Soekarno-Hatta, gagal mengikuti Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat. Di tengah kekecewaan yang memuncak, mereka memilih bernyanyi. Momen itulah yang kemudian viral dan menyentuh hati publik Indonesia.

Berawal dari Tiket yang Tidak Valid

Rombongan PSW Kepri dijadwalkan berangkat dari Bandara Hang Nadim, Batam, pada Rabu, 24 Juni 2026, dengan rute Batam–Jakarta–Manokwari. Namun saat proses check-in, kode booking tiket yang dipegang panitia ternyata tidak terdeteksi di sistem maskapai — statusnya tidak valid dan belum dibayar penuh.

Padahal, panitia melalui Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kepri mengaku telah mentransfer dana pembelian tiket sebesar Rp1.016.300.000 kepada pihak travel sejak 7 Mei 2026. “Kami benar-benar kaget. Informasinya tiket memang sudah di-booking, tetapi belum dibayar,” ujar Ketua LPPD Kepri, Jumaga Nadeak, dikutip dari Liputan6.com.

Terkatung-katung di Jakarta

Setelah serangkaian janji yang tidak terealisasi, pihak travel akhirnya hanya mampu membelikan tiket hingga Jakarta. Tiket lanjutan ke Manokwari, maupun tiket kepulangan, tidak pernah terbit.

“Travel itu sudah tidak mampu lagi. Akhirnya dibelikan tiket sampai Jakarta. Kemampuannya hanya sampai di situ sehingga peserta terlantar di Jakarta,” kata Jumaga.

Selama terlantar, panitia disebut tidak memberikan perhatian atau komunikasi yang memadai kepada para peserta. “Telepon ke kami tanya kabar saja tidak ada, panitia justru membiarkan kami hidup terlantar di Jakarta,” ujar Ketua Rombongan, Ria Ukur Rindu Tondang, dikutip dari Tribun Batam.

Bernyanyi di Terminal 3

Di tengah situasi yang memuncak, para peserta — sebagian besar ibu-ibu yang telah berlatih selama dua tahun untuk momen ini — memilih meluapkan kekecewaan mereka dengan cara yang bermartabat: melantunkan lagu-lagu rohani yang seharusnya mereka bawakan di panggung Pesparawi Nasional.

Suara mereka menggema di sudut Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, tanpa panggung, tanpa dewan juri, tanpa medali. Rekaman momen itu menyebar luas di media sosial dan mengundang simpati publik.

“Semua peserta menangis, marah, kecewa, bahkan emosional. Saya sebagai ketua tidak bisa mengendalikan semuanya,” aku Ria dengan nada pilu, dikutip dari Presmedia.id.

“Dua tahun bukan waktu yang singkat. Waktu, materi, dan tenaga yang telah dikorbankan selama dua tahun pelatihan akhirnya terbuang sia-sia karena kelalaian orang lain,” curhat salah satu peserta.

Anggaran Rp1,4 Miliar dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

Ironisnya, Pemprov Kepri mengklaim telah memenuhi kewajibannya dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,4 miliar untuk mendukung keberangkatan kontingen Pesparawi Kepri. Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, menegaskan pihaknya tidak mengetahui adanya masalah dalam proses keberangkatan.

“Anggaran kita sudah berikan Rp1,4 miliar supaya kontingen bisa berangkat. Kalau kemudian ada yang ditipu atau bagaimana, itu di luar yang kami ketahui,” kata Nyanyang, dikutip dari Liputan6.com.

Sementara itu, kontingen Paduan Suara Pria (PSP) Kepri yang berjumlah 21 orang berhasil tiba di Manokwari dan tetap mengikuti perlombaan — menambah kegetiran nasib rombongan wanita yang tidak seberuntung mereka.

Hingga kini, panitia, biro travel, dan Pemprov Kepri masih saling lempar tanggung jawab. LPPD Kepri disebut telah melaporkan kasus ini ke kepolisian. Pertanyaan tentang ke mana perginya dana lebih dari satu miliar rupiah itu belum terjawab secara resmi.

Rombongan akhirnya dipulangkan ke Tanjungpinang pada 26 Juni 2026 — membawa pulang trauma dan kelelahan, bukan medali kebanggaan.

Scroll to Top