Catatan dari Balik Panggung: Apa Kata Musisi tentang Megahnya Festival Jam Jam Asia di Taiwan?

Taipei, Taiwan — Festival musik selalu menjadi lebih dari sekadar deretan penampil di atas panggung; ia adalah sebuah ekosistem yang mempertemukan musisi, kru teknis, dan puluhan ribu penonton dalam satu ruang apresiasi. Tahun ini, Jam Jam Asia 2026 yang digelar di Taipei berhasil membuktikan kelasnya sebagai salah satu festival musik paling esensial di kawasan Asia.

Tim Indomusikgram yang hadir langsung ke area belakang panggung berkesempatan menanyakan satu pertanyaan penting kepada enam musisi lintas negara—Atarashii Gakko, ADOY, H3F, Charlie Lim, INIS, dan The Melting Minds: Bagaimana rasanya menjadi bagian dari Jam Jam Asia?

Dari obrolan tersebut, terungkap ragam impresi menarik yang menyoroti betapa profesional dan meriahnya festival ini.

Energi Penonton yang Tak Terbendung Cuaca

Bagi banyak musisi, respons penonton adalah detak jantung dari sebuah pertunjukan. Di Jam Jam Asia, audiens Taiwan membuktikan dedikasi mereka yang luar biasa.

Vokalis H3F asal Thailand, Kong, awalnya pesimis melihat cuaca Taipei yang sangat terik. “Awalnya saya tidak berekspektasi penontonnya akan ramai karena cuacanya benar-benar panas. Tapi ketika tirai panggung diturunkan, saya langsung terkejut,” ungkapnya. Fakta bahwa penonton tetap berdiri dan bersorak di bawah terik matahari membuat H3F kagum pada energi penggemar di Taiwan.

Senada dengan H3F, solois Singapura, Charlie Lim, juga mengaku sangat kaget melihat antusiasme massa. “Hari ini penontonnya benar-benar asyik, dan ternyata venue-nya terisi penuh. Aku sangat bersyukur dan bersemangat karena banyak banget orang yang ternyata datang menonton,” tuturnya.

Bahkan bagi INIS, musisi pendatang baru asal Indonesia yang baru pertama kali menjajal panggung Taiwan, rasa gugupnya langsung sirna berkat audiens JJA. “Penontonnya sangat engage dan seru, apalagi di momen aku bisa bermain balon bersama mereka di tengah-tengah kerumunan,” puji INIS.

Tata Kelola Kelas Dunia dan Atmosfer ‘Konferensi Musik’

Selain energi penonton, Jam Jam Asia juga mendapat pujian setinggi langit terkait manajemen operasionalnya. Pujian paling keras datang dari unit psychedelic rock asal Gunung Kidul, Indonesia, The Melting Minds.

Berangkat dengan kebiasaan festival lokal yang sangat bergantung pada Liaison Officer (LO), mereka mengalami culture shock positif di Taiwan. Di JJA, mereka sama sekali tidak didampingi LO, melainkan hanya berbekal handbook (buku panduan). “Semuanya sudah well-prepared. Teknis di panggung juga sangat cepat, set set set set. Kami sampai kewalahan melihat kecepatan kru panggungnya,” puji The Melting Minds. Kecepatan changeover (pergantian alat) ini membuktikan efisiensi kru lokal Taiwan yang luar biasa.

Di sisi lain, band synth-pop Korea Selatan, ADOY, menyoroti vibes festival yang terasa sangat intim dan edukatif. Karena mereka sudah pernah bermain di venue yang sama tahun lalu, panggung JJA terasa sangat familier. “Acara ini juga terasa lebih seperti konferensi musik (dibanding sekadar festival biasa). Jadi, kami bisa berkeliling dan menikmati acaranya,” jelas ADOY.

Panggung Sempurna untuk Merayakan Karya Baru

Dengan segala fasilitas dan audiens yang luar biasa, Jam Jam Asia menjadi tempat peluncuran yang sempurna bagi karya-karya segar. Hal ini dimanfaatkan betul oleh grup nyentrik asal Jepang, Atarashii Gakko.

Bagi mereka, JJA bukan sekadar jadwal manggung biasa, melainkan momen perayaan. “Karena album baru kami baru saja rilis, kami membawakan banyak lagu untuk pertama kalinya di Taipei pada acara ini. Kami sangat senang bisa menyalurkan energi ini secara langsung kepada para penonton,” jelas mereka.

Pada akhirnya, Jam Jam Asia 2026 tidak hanya sukses menghadirkan hiburan, tetapi juga menetapkan standar emas tentang bagaimana sebuah festival musik berskala internasional seharusnya dijalankan—mulai dari manajemen tanpa cela di balik layar hingga euforia tak terlupakan di depan panggung.

Scroll to Top