MIRZATAMI Rilis Album Penuh Perdana “Jejak”, Puncak Satu Dekade Perjalanan Dua Musisi Lintas Genre

Ada proyek musik yang lahir dari kalkulasi. Dan ada yang lahir dari pertemuan — dua orang yang menemukan ketertarikan yang sama, lalu memutuskan untuk membangun sesuatu dari sana bersama-sama.

MIRZATAMI adalah yang kedua. Dan “Jejak” — album penuh perdana duo Yudhistira Mirza dan Charita Utami yang resmi dirilis pada 11 Juni 2026 — adalah bukti dari apa yang bisa lahir ketika dua musisi dengan perjalanan panjang memutuskan untuk berjalan beriringan.


Sepuluh Lagu, Satu Dekade Cerita

Album “Jejak” berisi sepuluh lagu yang merekam perjalanan kreatif MIRZATAMI selama lebih dari satu dekade. Bukan sekadar kumpulan lagu yang dikumpulkan dalam satu wadah, melainkan sebuah narasi yang mengalir — dari pembuka hingga penutup.

Lagu-lagu tersebut antara lain “Jejak (Intro)”, “Rampas”, “Usai Usia”, “Serang Serang”, “Saling Menghidupkan”, “Selat (Interlude)”, “Tembang Kembang”, “Sembuh Tumbuh”, “Pasrah”, dan “Sadar Sandar”. Empat di antaranya — “Rampas”, “Usai Usia”, “Saling Menghidupkan”, dan “Sadar Sandar” — sudah lebih dulu dirilis sebagai single dan mendapat sambutan dari pendengar sebelum akhirnya menemukan tempatnya dalam narasi yang lebih besar ini.


Dari Pertemuan 2015 hingga Sebuah Album

Berawal dari pertemuan pada 2015, keduanya menemukan kesamaan visi dalam mengeksplorasi corak musik etnik, folk, dan elektronik. Dari sinilah lahir karya-karya yang kemudian membentuk identitas musikal mereka.

Perjalanan itu dimulai dengan mini album “Detak” (2018) — perkenalan pertama MIRZATAMI kepada publik. Nama panggung MIRZATAMI sendiri dipilih dengan pertimbangan yang sederhana namun tepat: agar mudah diingat dan diucapkan oleh khalayak pendengar.

Kini, delapan tahun setelah “Detak” dan lebih dari satu dekade sejak pertemuan itu, “Jejak” hadir sebagai tonggak penting — karya yang tidak hanya menjadi album debut, tapi juga cerminan dari siapa MIRZATAMI sekarang.


Dua Musisi dengan Jejak yang Tidak Bisa Diabaikan

Yang membuat “Jejak” terasa berbeda dari banyak debut album lainnya adalah bobot pengalaman yang masing-masing personelnya bawa.

Charita Utami memulai karier musiknya sejak 2008 bersama The Trees and The Wild — salah satu nama paling berpengaruh dalam skena indie Indonesia — yang melahirkan album “Rasuk” (2009) dan “Zaman, Zaman” (2016). Pada periode yang sama, Tami turut terlibat dalam pembentukan grup EDM Midnight Quickie yang merilis “Being Bad Feels Good” (2014). Perjalanannya berlanjut dengan kolaborasi bersama Fourtwnty dalam “Mangu” (2022), dan solo EP “Omahati” (2023).

Yudhistira Mirza membentuk Parisude pada 2009 — yang melahirkan dua mini album “Sudut Pandang” dan “Musikalisasi”, serta full album “Trikaya Parisude” bersama Amanda Chitarra. Ia juga pernah bergabung dengan Talun Awan dan merilis mini album “Anakto”. Di luar perannya sebagai gitaris, Mirza dikenal sebagai produser yang menggarap single “Pikiran dan Perjalanan” dari Barasuara (2019) dan “Only Ever In Daylight” dari Jelita Clough (2022).

Ketika dua musisi dengan jejak sepanjang itu memutuskan untuk berkolaborasi secara serius dan konsisten — hasilnya tidak bisa biasa-biasa saja.


Etnik, Folk, dan Elektronik yang Menyatu

Identitas musikal MIRZATAMI tidak mudah dimasukkan dalam satu kotak — dan memang tidak seharusnya. Perpaduan antara corak etnik, folk, dan elektronik yang menjadi fondasi duo ini mencerminkan luasnya referensi dan pengalaman yang keduanya miliki.

Dalam proses kreatif maupun skala pertunjukan besar, MIRZATAMI juga mendapat dukungan dari sejumlah musisi seperti Geraldo Oryza (bass), Housman Pranoto (drum), dan Pandji Putranda (piano). Kolaborasi ini memperkaya warna musik yang mereka sajikan, menjadikan Jejak sebagai karya yang matang secara musikal.


Tonggak, Bukan Titik Akhir

“Jejak” adalah nama yang dipilih dengan penuh kesadaran. Setiap lagu dalam album ini adalah bagian dari jejak yang ditinggalkan — jejak perjalanan, jejak perasaan, jejak dari dua orang yang sudah lama berjalan bersama dan kini memutuskan untuk mendokumentasikan perjalanan itu dalam bentuk yang paling utuh.

Dan seperti namanya, “Jejak” bukan tentang berhenti. Ia tentang melihat ke belakang sejenak, mengenali sejauh mana perjalanan ini sudah berlangsung — sebelum kemudian melanjutkan langkah.

Album “Jejak” dari MIRZATAMI kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital.

Scroll to Top