Indonesia 6 dan Konsep Mengakrabkan Telinga Pendengar

Penulis: Dzulfikri Putra Malawi

Saya bukan orang yang mengikuti perjalanan Indonesia Enam. Tapi berada di dalam lingkungannya, rasanya sayang sekali kalau melakukan pengabaian untuk tidak menulis. Paling tidak perspektif ini dapat melengkapi kisah-kisah dari perjalanan mereka untuk kalian yang mengikutinya sejak lama. Mungkin di dalamnya tersemat kabar terbaru, yang jika dicermati, ada banyak hal menarik hingga yang lebih dalam ke kontemplasi untuk mereka yang mendalami industri musik.

Membayangkan pertemanan mereka di Bandung era 80-an dengan semangat musikal yang sedang gagah-gagahnya. Ada satu sosok kunci yang secara tidak langsung mempertemukan persahabatan mereka. Bang Elfa, begitu mereka kompak memanggilnya.

Bahkan Yovie dan Bubi hingga kini masih berduet. Tak hanya untuk urusan musik, tapi dengan tanggung jawab yang lebih luas lagi; urusan negara. Mereka berada di dalam satu kantor yang sama. Diskusi tajam dan juga brilian menjadi santapan hari-hari kami bekerja. Tidak ada rasa pesimisme. Bagi saya yang junior, adalah berkah bisa menjadi satu tim mewujudkan mimpi-mimpi menata ekosistem musik negeri ini. Yang bahkan, sejak mereka mereka mulai berkarier, ya masih gini-gini saja.

Tahun lalu, lagu Fatamorgana ramai di lini masa. Dibicarakan dengan berbagai sudut pandang. Bahkan dalam satu kesempatan, ada seorang anak SMA yang datang ke Yovie membawa kaset album mereka untuk dilegalisir. Pendengarnya tembus lintas generasi.

Akhir pekan ini, di Jogja, Bubi didatangi oleh kolektor dan “wikipedia musik berjalan”, pak Singo TJ. Dia membawa dua album kompilasi 10 Bintang Nusantara edisi 1 dan 2. Yang mana saat itu urutan bandnya ditentukan oleh banyaknya pendengar di radio. Di edisi pertama, Indonesia 6 tercetak namanya di urutan pertama, disusul oleh Kla Project, Splash Band, Dimensi Band, Sirkus Barock, Punk Modern Band, ITB Jazz Choir, Wachdah Band, Katara Singers, dan F & L Duo. Lalu di edisi 2, cetakan namanya digeser oleh KLA Project yang lebih moncer di telinga pendengar.

Empat dekade berlalu, dan semua personelnya masih bersahabat. Sejak munculnya lagu Fatamorgana – yang vokalnya di isi oleh Lita Zen & Ferina itu kembali mengudara di generasi Z, ihwal untuk bereuni dan manggung kembali tercetus. Akhir tahun lalu, mereka kopi darat di Jakarta. Dalam bayangan saya, pasti suasana hatinya nano-nano, entah senang, atau justru akan menjadi polemik baru lantaran kondisi kehidupan yang berbeda-beda dari tiap personel.

Dalam obrolan malam itu, saya tergugah dengan kisah Bubi. Ia mengatakan, target mereka saat itu anak SMA, bukan anak kuliah, jadi mereka sengaja memutuskan untuk tidak bermain jazz murni yang bernuansa latin. Kenapa latin? Jelas DNA musik Bang Elfa lah yang ikut mengalir dalam permainan musik mereka.

Itu sebabnya, target yang disasar dengan sengaja untuk anak-anak SMA yang akrab dengan City Pop karena dikenal punya melodi yang ramah. Maka mereka tetapkan sebagai gaya musik yang coba dihadirkan bersama Indonesia 6. Menggabungkan musik latin dengan tiga synthesizer dan perkusi. Agar ritmiknya kuat namun harmoninya tetap tebal. Begitu menurut Bubi.

Era yang saat itu dikenal sebagai genre jazz fusion memang banyak dipengaruhi oleh band-band dari Jepang. Dan kini akrab dikenali sebagai City Pop. “Perbandingannya antara Casiopea dan Yellowjackets yang punya musik sama-sama rumit. Tapi Casiopea punya melodi yang sangat ramah sekali. Diatonis. Walaupun chordnya mereka ‘kemana-mana’. Dan yang jago membuat melodi ini adalah Yovie Widianto,” ungkap Bubi.

Berkat ramuan musik yang dipilih, Yani Danuwijaya, Yovie Widianto, Bubi Iradiadi, Hentriesa, Iwan Wirazd, dan Desi Arnas Lahat keliling Indonesia dan sempat tampil di Budokan Hall Tokyo di 1987.

Bandung menjadi melting pot musisi-musisi dengan selera bagus dan paham kebutuhan pendengar. Yovie Widianto menjadi salah satu yang membuktikannya. Setelah Indonesia 6, Kahitna pun terbentuk. Kecerdasannya dalam memilih melodi-melodi diatonis yang ramah di kuping membuat banyak karya Yovie menjadi hits. Menembus penyanyi dan pendengar lintas generasi.

Dalam sebuah perbincangan musik yang intens dan menjadi diskursus hari-hari kami di kantor, saya menyadari, betapa naluri seorang komposer yang cerdas mampu menempatkan kepentingan dan kebutuhan dengan imbang. Konsep mengakrabkan telinga pendengar dilanjutkan lewat karya-karyanya di Kahitna. Band yang setahu saya paling banyak hits-nya. Dan sampai saat ini pendengarnya pun tembus lintas generasi.

Sebagai hits maker, Yovie juga punya sisi lain musikalitasnya yang tidak “ramah” di telinga pendengar. Dan itu ditumpahkan dalam lagu-lagu di album Kahitna dan Yovie & Nuno. Banyak lagu-lagu dari Yovie & Nuno di album-album awal yang sengaja dibuat dengan mengedepankan musikalitasnya sehingga tidak semua lagu di album ini menjadi hits. Coba saja dengarkan Tunggu Dulu!, Malam Genic, HTS, Il Feel, Ku Tak Suka Lagu Ini, dan Pertama.

Terbukti jitu dan teruji dengan waktu. Indonesia 6, Kahitna, dan Yovie & Nuno harusnya bisa menjadi salah satu cetak biru dari sebuah karya yang sudah layak dianggap menjadi aset. Dengan begitu, karya akan siap bertarung dalam industri musik Indonesia dan global. Saat semuanya dianggap menjadi aset, kemampuan manajerial juga menentukan umur karyanya. Dan berharap hal ini dapat diduplikasi agar punya dampak yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi sang pencipta dan juga ekosistemnya.

Siapa yang tak ingin karya-karya yang dihasilkan dapat mengakomodir musikalitas sebagai jati diri tapi juga mampu memenuhi kebutuhan komersialnya hingga ekonominya terus bernilai dan berputar. Sebab saat ini, stream revenue tidak hanya seputar royalti, tapi bagaimana musik bisa dikelola sebagai aset Intellectual Property (IP) yang menjadi bisnis masa depan.

Scroll to Top