Respons menarik datang dari Saykoji setelah lagunya diparodikan oleh sebuah akun dengan nama “Saykonak”.
Akun tersebut mengunggah versi parodi dari lagu “Online”, lengkap dengan elemen visual seperti artwork dan logo yang dibuat menyerupai identitas milik Saykoji.

Alih-alih mempermasalahkan, Saykoji justru merespons dengan sikap yang cukup terbuka. Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak keberatan meskipun parodi tersebut dibuat tanpa izin terlebih dahulu, meskipun menurutnya makna dan nilai dari karya tersebut bisa menjadi berbeda.
“Mau parodiin lagu gue ga ijin ga pernah gw permasalahin walau makna dan nilainya jadi berbeda. Gue berharap siapapun elo bisa cari rejeki dan menghidupi orang-orang penting di hidup elo.”
Meski demikian, ia tetap memberikan catatan terkait penggunaan identitas visual yang dinilai terlalu mirip.
“Tapi sebisa mungkin gw request logo jangan disamakan. Semoga bisa bangun identitas dan kualitas yang unik dengan cerita dan narasi sendiri ke depannya.”
Imbauan untuk Tidak Menyerang Kreator
Tak berhenti di situ, Saykoji juga mengunggah ulang tanggapannya melalui akun pribadinya. Dalam unggahan tersebut, ia secara tegas mengingatkan publik untuk tidak melakukan perundungan terhadap kreator parodi tersebut.
“Jangan dibully, jangan diserang. I wish this guy success, blessings & rejeki… All I ask is just come up with your own logo.”
Sikap ini menjadi sorotan karena menunjukkan pendekatan yang relatif terbuka terhadap karya turunan seperti parodi, selama tetap memperhatikan batasan tertentu—terutama dalam hal identitas visual.
Parodi dan Batas Kreativitas
Kasus ini kembali memunculkan diskusi tentang batas antara inspirasi, parodi, dan penggunaan identitas dalam berkarya.
Di satu sisi, parodi menjadi bagian dari ekspresi kreatif yang cukup umum di era digital. Namun di sisi lain, penggunaan elemen identitas yang terlalu mirip juga dapat menimbulkan pertanyaan terkait orisinalitas dan etika kreatif.
Respons Saykoji dalam kasus ini memperlihatkan posisi yang cukup seimbang—memberi ruang bagi kreativitas, sekaligus tetap mendorong pentingnya membangun identitas yang unik.


