Jubing Kristianto (lahir 9 April 1966) adalah salah satu gitaris paling konsisten dan berpengaruh dalam perkembangan gitar klasik dan fingerstyle di Indonesia. Namanya tidak hanya dikenal sebagai pemain, tetapi juga sebagai pendidik, penulis, pengarsip, sekaligus jembatan antara musik Indonesia dan dunia gitar klasik global.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
07-12-2022
Dibesarkan di keluarga yang mencintai musik, Jubing sudah terbiasa tampil di ruang publik sejak usia belasan tahun. Pada umur 12 tahun, ia telah mengiringi konser sekolah dengan gitarnya. Ketertarikannya pada gitar klasik semakin serius ketika ia berguru pada Suhartono Lukito di Semarang. Dari titik itu, jalur hidupnya sebagai gitaris mulai terbentuk.
Prestasinya mulai menonjol sejak era Yamaha Festival Gitar Indonesia (YFGI). Jubing tercatat meraih empat gelar juara pertama di kategori bebas pada 1987, 1992, 1994, dan 1995, serta Distinguished Award di Festival Gitar Yamaha se-Asia Tenggara di Hong Kong pada 1984. Di saat banyak gitaris memilih jalur akademik musik, Jubing justru menempuh pendidikan Kriminologi di Universitas Indonesia—sebuah latar yang memperkaya cara pandangnya terhadap seni, manusia, dan konteks sosial musik.
Gitar sebagai Bahasa Suasana
Dalam dunia gitar, Jubing dikenal bukan sekadar piawai secara teknis, tetapi mampu “menghadirkan suasana”. Permainan gitarnya kerap menekankan rasa, dinamika, dan narasi, bukan unjuk kecepatan semata. Pendekatan ini membuatnya sering terlibat dalam proyek lintas disiplin, mulai dari musikalisasi puisi hingga kolaborasi seni rupa.

Ia tercatat berkolaborasi dengan penyair besar seperti WS Rendra, musisi perkusi tradisional Suryadi, pelukis Susilowati Natakoesoemah, hingga tenor Abimanyu. Dalam berbagai kolaborasi tersebut, gitar tidak berdiri sebagai instrumen soliter, melainkan sebagai medium dialog antar seni. Jubing juga pernah tampil bersama Kwartet Punakawan pimpinan Jaya Suprana, serta berkolaborasi dengan gitaris Balawan dalam sejumlah kesempatan.
Reputasinya bahkan membawa Jubing tampil di panggung internasional, termasuk Sydney Opera House, membawakan karya-karya Indonesia di hadapan audiens global. Bagi Jubing, gitar klasik bukan sekadar instrumen Barat, melainkan alat untuk memperkenalkan identitas musikal Indonesia ke dunia.
Dari Jurnalisme ke Jalan Sunyi Gitaris
Menariknya, perjalanan Jubing tidak selalu berada di jalur musisi penuh waktu. Pada 1990, ia bekerja sebagai jurnalis di Tabloid NOVA. Di sela aktivitas jurnalistik, ia tetap belajar dan mengasah gitar, termasuk berguru pada Arthur Sahelangi. Keputusan besar datang pada 2003, ketika ia memilih meninggalkan dunia jurnalistik demi menekuni gitar sepenuhnya—sebuah langkah yang saat itu terbilang berisiko, namun menentukan arah hidupnya.
Sejak itu, Jubing aktif sebagai instruktur, seminaris, dan penguji gitar di Yayasan Musik Indonesia (Yamaha) serta Sekolah Musik Relasi. Ia juga produktif menulis di media edukasi musik seperti Staccato dan Gitar Plus, serta menulis buku referensi penting seperti Gitarpedia: Buku Pintar Gitaris dan Membongkar Rahasia Chord Gitar yang diterbitkan Gramedia dan berkali-kali cetak ulang.
Membuka Arsip, Membuka Pengetahuan
Salah satu langkah paling progresif dalam karier Jubing adalah keputusannya untuk membagikan aransemen dan komposisi gitar klasiknya secara gratis melalui internet sejak tahun 2000. Langkah ini jauh mendahului era platform berbagi digital seperti sekarang. Atas konsistensinya tersebut, Jubing dianugerahi MURI sebagai “Gitaris Indonesia Pertama yang Menyebarluaskan Komposisi dan Aransemen Gitar Pribadi Secara Gratis di Internet” pada 2008.
Hingga kini, arsip tersebut masih dapat diakses melalui situs pribadinya di https://www.oocities.org/jubing/. Di dalamnya tersimpan puluhan partitur gitar klasik yang ia susun sejak awal 2000-an—sebuah arsip yang jika dihitung dari tahun 2026 telah berusia lebih dari 20 tahun, namun tetap relevan sebagai bahan belajar.

Aransemen yang dibagikan mencakup lagu-lagu Indonesia seperti Ambilkan Bulan (A. T. Mahmud), Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki), Yamko Rambe Yamko, dan Burung Kakatua, berdampingan dengan repertoar dunia seperti Minuet in G karya Johann Sebastian Bach dan Auld Lang Syne. Selain itu, Jubing juga membuka akses ke komposisi orisinalnya seperti Becak Fantasia, The Clock, The Butterfly Dance, dan Moonrise.
Warisan yang Bisa Dipelajari, Bukan Disimpan
Keputusan Jubing membagikan aransemen tanpa paywall, tanpa registrasi, dan tanpa embel-embel komersial menjadikan arsip ini lebih dari sekadar koleksi pribadi. Bagi gitaris klasik—terutama pelajar dan mahasiswa musik—materi ini adalah sumber belajar nyata tentang bagaimana lagu anak, lagu daerah, dan lagu nasional dapat diolah menjadi aransemen gitar solo yang musikal dan idiomatis.
Lebih jauh, langkah ini mencerminkan pandangan Jubing tentang musik sebagai pengetahuan yang harus diwariskan. Ia tidak memosisikan karya sebagai barang eksklusif, melainkan sebagai medium pendidikan. Tak heran jika sejumlah komposisinya bahkan dijadikan lagu wajib ujian gitar di sekolah musik seperti Yayasan Pendidikan Musik (YPM) Jakarta.
Di tengah ekosistem musik yang semakin transaksional, apa yang dilakukan Jubing Kristianto terasa seperti pernyataan sikap. Bahwa pengalaman puluhan tahun bermusik bisa dibagikan, bahwa arsip bisa menjadi amal intelektual, dan bahwa gitar klasik Indonesia punya sejarah yang layak dipelajari, bukan dilupakan.


