Padi Reborn Terbuka terhadap Kehadiran AI Asal Diatur
Grup musik Padi Reborn menyatakan sikap terbuka terhadap masuknya kecerdasan buatan (AI) ke ranah musik, selama ada kerangka regulasi yang jelas. Dalam wawancara eksklusif bersama Medcom, gitaris Padi, Piyu, menegaskan bahwa melawan dominasi teknologi bukanlah opsi realistis, sehingga musisi harus fokus pada adaptasi. Piyu mengatakan, “Ini kita tidak bisa kita melawan mereka. Tapi, gimana caranya kita bisa adaptasi.” Ia berharap adaptasi tersebut diikuti oleh aturan-aturan yang memberi perlindungan bagi musisi dan seniman yang telah lama berkarya.

Piyu juga menekankan bahwa penggunaan AI sebaiknya bersifat sebagai alat bantu, bukan sumber utama penciptaan karya. Menurutnya, model yang relevan adalah AI sebagai tools yang mendukung proses kreatif, bukan menggantikan sumber utama musik.
Karakteristik Musik dan “Pengalaman Rasa” Tak Bisa Diteknologi-kan
Anggota lain, drummer Surendro Prasetyo (Yoyo), menegaskan keyakinannya bahwa unsur rasa yang dibawa penyanyi ketika menampilkan lagu adalah aspek yang sulit — bahkan mustahil — direkayasa oleh teknologi. Yoyo menyatakan, “Kalau saya, sih, punya keyakinan (kalau) musik itu, kan, disampaikan dengan rasa. Dan rasa itu tidak bisa diadaptasi dengan teknologi.” Ia menambahkan bahwa setiap musisi memiliki ciri khas tersendiri yang menjadi identitas karya mereka.
Vokalis Padi, Andi Fadly Arifuddin, turut menegaskan pentingnya hubungan antara musisi dan penonton dalam konteks pertunjukan langsung. Ia menyoroti bahwa pengalaman live adalah aspek emosional yang sulit tergantikan, dan itulah yang memberi makna tersendiri bagi musik.
Pelajaran dari Transformasi Teknologi: Dari Pita ke Komputer, Kini ke AI
Dalam percakapan, Piyu mengenang perjalanan teknologi rekaman dari masa analog ke era digital, lalu ke era kecerdasan buatan. Ia menggambarkan bagaimana perubahan teknologi pernah mengubah cara kerja musisi—dari membawa pita rekaman, hingga kini semua praktis menggunakan komputer. Piyu memandang AI sebagai kelanjutan proses evolusi teknologi tersebut, sehingga peran musisi adalah menyesuaikan diri sambil memastikan ada perlindungan hukum yang memadai. Seperti ia sampaikan, “Adaptasi dalam artian, ya, AI pasti nanti akan diikuti oleh aturan-aturan atau regulasi yang akan mendukung untuk bisa melindungi dari para musisi atau seniman yang memang sudah berkarya udah lama gitu.”
Padi Reborn menegaskan posisi mereka: menyikapi AI dengan sikap adaptif, menuntut regulasi yang melindungi pembuat karya, dan mempertahankan nilai-nilai musikal yang berbasis pengalaman rasa dan identitas band.
Disadur dari: https://www.medcom.id/hiburan/musik/GKdG4lEk-padi-reborn-kita-tidak-bisa-melawan-ai


