TheOvertunes tidak pernah setengah-setengah dalam bercerita. Dan di single kedua menuju album ketiga mereka, trio kakak-beradik Mikha Angelo, Reuben Nathaniel, dan Mada Emmanuelle mengajak seseorang yang merasakan hal yang sama untuk bersuara bersama: Nadin Amizah.

“Makhluk Cahaya” bukan sekadar lagu. Ia adalah prinsip hidup yang ditulis oleh lima orang dengan sudut pandang berbeda — dan dinyanyikan sebagai satu pernyataan bersama.
Bukan Sekadar Cerita, Tapi Cara Hidup
Setelah merilis “Sampai Kapan?” pada Mei lalu, TheOvertunes kembali dengan sesuatu yang lebih dalam — sebuah perenungan yang sudah lama mereka pikirkan, bahkan coba hidupi jauh sebelum lagu ini lahir.
“Banyak hal tentang kepercayaan kita tuh sesuai sama lagu ini, sesuatu yang udah kita pikirin bahkan coba hidupin sejak dulu.”
— Mikha Angelo
Pesan itu berulang dalam refrain yang menjadi jantung lagu ini:
“Beribu kali terjatuh, kembali terbangun — aku kembali percaya kita makhluk cahaya — mulai dari hati, sampai seluruh bumi — aku kembali percaya kita makhluk cahaya.”
Menjadi terang dan membagikan kebaikan melalui hidup adalah pesan yang sederhana di permukaan. Tapi TheOvertunes tahu bahwa menjalaninya jauh dari mudah.
“Sebenarnya ga gampang untuk kita aplikasikan ke kehidupan kita sendiri dan untuk sepenuhnya memahami dan menjalaninya pun butuh kedewasaan tersendiri.”
— Mada Emmanuelle
Harapan yang Tulus, Bukan Optimisme Kosong
“Makhluk Cahaya” lahir di tengah keadaan yang tidak mudah — ketika banyak orang merasa kehilangan harapan dan sinisme terasa lebih mudah daripada kepercayaan. TheOvertunes sadar akan konteks itu, dan justru karena itulah mereka berhati-hati dalam menyampaikan pesan ini.
“Semoga lagunya ga berasa kayak optimisme kosong gitu tapi bisa bikin orang tetap menemukan harapan yang tulus.”
— Reuben Nathaniel
Dan Mikha menambahkan dimensi yang lebih personal dari kegelisahan itu:
“Rasanya di umur-umur segini tuh lebih diuji untuk bisa tidak naif lagi dan tahu betapa susahnya juga untuk kita tetap memegang prinsip itu.”
— Mikha Angelo
Lima Penulis, Satu Rasa yang Sama
Proses penulisan “Makhluk Cahaya” bukan yang paling mudah. Mengeluarkan perenungan yang menyangkut prinsip hidup — bukan sekadar cerita — membutuhkan waktu dan keberanian tersendiri. Lagu ini akhirnya menemukan jalannya ketika lima penulis menemukan titik temu: mereka merasakan hal yang sama, meski dari sudut pandang yang berbeda.
Di situlah peran Nadin Amizah terasa paling tepat. Bukan hanya sebagai penyanyi tamu, melainkan sebagai sesama manusia yang juga sedang mencoba membawa cahaya untuk orang-orang di sekitarnya. Cerita yang ia bawakan adalah cerita miliknya sendiri — dan itulah yang membuat kehadirannya dalam lagu ini terasa autentik, bukan sekadar kolaborasi strategis.
Aransemen yang Mengikuti Perjalanan Batin
Salah satu hal yang paling menarik dari “Makhluk Cahaya” adalah bagaimana aransemennya bergerak seiring dengan alur cerita — seperti bagan cerita pendek yang bisa didengar, bukan hanya dibaca.
Lagu dibuka dengan gitar yang sepi, mengiringi imajinasi sang protagonis: “Seandainya aku punya hati yang tak terbatas, ku mau merangkul seisi bumi.” Seiring protagonis menemukan harapannya, musik yang mengiringi pun semakin ramai — perkusi yang mengikuti detak hati, paduan suara yang mendeklarasikan bersama-sama.
Lalu datang momen yang paling halus namun paling kuat: aransemen yang terkesan jauh, seperti seseorang yang kembali berkaca pada anak kecil di dalam dirinya. Di sanalah Nadin bernyanyi lembut — “Walau aku kecil, tanganku mampu mendekap seisi bumi” — sebuah perdamaian dengan diri sendiri yang tadinya takut, tapi kini penuh harap.
Dan kontras itu terasa paling jelas di akhir lagu. Perenungan bait awal diulang kembali — tapi kali ini, kalimat “Namun aku hanya manusia” berganti menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat: “Karena aku manusia.”
Lagu yang Ingin Diingat Sebagai Identitas
Bagi TheOvertunes, “Makhluk Cahaya” bukan hanya karya — ia adalah pernyataan tentang siapa mereka sebagai musisi.
“Aku berharap orang kalau ingat TheOvertunes, ingat pesan lagu ini.”
— Mikha Angelo
“Gua berharap kita bisa saling menyebarkan cinta atau rasa kepedulian daripada sebelum-sebelumnya dan hadir buat orang-orang yang membutuhkan.”
— Mada Emmanuelle
Dan Reuben menyimpulkan apa yang TheOvertunes yakini tentang dunia saat ini:
“Anggap harapan dan cinta dengan lebih serius dan untuk sementara berhenti bersikap sinis. Bahkan, harapan dan cinta bisa jadi adalah jawabannya.”
— Reuben Nathaniel
Menuju Album Ketiga
“Makhluk Cahaya” menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. TheOvertunes memastikan bahwa album ketiga mereka akan segera melanjutkan langkahnya — dengan lagu-lagu lain yang penuh introspeksi, merayakan hidup, dan menjalani setiap detik dengan sepenuh-penuhnya.
Setelah “Sampai Kapan?” dan kini “Makhluk Cahaya”, arah perjalanan itu sudah mulai tergambar jelas: sebuah album yang tidak hanya ingin didengar, tapi benar-benar dihidupi.
“Makhluk Cahaya” dari TheOvertunes feat. Nadin Amizah kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital.


