Tidak ada yang benar-benar bisa menebak langkah The Jansen selanjutnya. Dan itulah yang membuatnya selalu menarik.
Setelah lebih dari satu dekade membangun diskografi yang dipenuhi sindiran sosial, kegelisahan eksistensial, dan romantisme yang dibungkus kepahitan—The Jansen akhirnya menulis lagu cinta. Bukan lagu cinta yang manis dan tanpa beban, tentu saja. Melainkan lagu cinta yang tetap gelap, tetap ironis, dan tetap sangat khas mereka. Single “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)” resmi dirilis pada 29 April 2026, menjadi pintu masuk menuju album keempat sekaligus penutup trilogi mereka, Romantisasi Impulsif, yang dijadwalkan hadir pada 22 Juli 2026.

Trilogi yang Hampir Selesai
Untuk memahami posisi single ini, perlu dilihat dari mana perjalanan The Jansen dimulai. Dari EP From Bogor to Japan (2016), album Present Continuous (2017), Say Say Say (2019), hingga terobosan besar Banal Semakin Binal (2022) yang berhasil merambah berbagai kalangan. Dua tahun lalu, Durja Bersahaja (2024) hadir dengan pendekatan yang mengejutkan: lo-fi, vokal Bani yang sengaja ditenggelamkan, dan reverb basah yang sempat membuat pendengarnya bingung sekaligus terpesona.
Romantisasi Impulsif menjadi kepingan terakhir dari trilogi yang dimulai Banal Semakin Binal dan dilanjutkan Durja Bersahaja—dua belas nomor yang menutup tiga babak perjalanan yang tidak pernah bisa ditebak arahnya.
Kini hanya tersisa dua: Cinta Rama Bani Satria (Bani) dan Adji Pamungkas. Dan mereka memilih untuk mengawali penutup trilogi ini dengan sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Pertama Kalinya The Jansen Sengaja Menulis Lagu Cinta
“Ini pertama kali The Jansen dengan sengaja membikin lagu cinta,” ujar Adji.
Pernyataan itu terdengar sederhana—namun konteksnya tidak. Selama ini, The Jansen dikenal dengan pesta anak muda, kritik sosial, dan kegelisahan yang dikemas dengan cara yang tidak pernah benar-benar nyaman untuk dinikmati. Jatuh cinta, kerentanan, kontradiksi perasaan—itu bukan wilayah yang biasa mereka jelajahi secara terang-terangan.
Namun “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)” mengubah itu. Wo ai ni—aku cinta padamu dalam bahasa Mandarin—diulang seperti mantra yang mencoba meyakinkan diri sendiri lebih dari meyakinkan pasangan. Manis di permukaan, namun menyimpan ironi yang sangat khas The Jansen di baliknya.
Cinta di Tengah Kemiskinan yang Mengintai
Yang membuat lagu ini lebih dari sekadar lagu cinta biasa adalah pertanyaan yang menjadi fondasinya. Adji Pamungkas sebagai penulis lirik tidak hanya menulis tentang dua orang yang kasmaran—ia menulis tentang bagaimana cinta bekerja di tengah keterbatasan, di tengah realita yang sering kali tidak romantis sama sekali.

“Meski ini pengalaman pertama bikin lagu cinta, tapi kami mau ngasih perspektif yang berbeda. Bagaimana cara cinta bekerja di tengah kemiskinan yang mengintai?” ujar Adji.
Dari fenomena kecil yang sering ia dengar—seseorang yang rela meminjam motor demi mengajak kekasihnya jalan-jalan—The Jansen membangun gambaran yang lebih luas tentang bagaimana manusia rela melakukan hal-hal yang tampak tidak masuk akal demi menjaga cintanya. Gelap, ironis, tapi di sudut yang lain terdengar sangat jujur dan rapuh.
“Kami senang memulai dari sesuatu yang belum kami tahu akan ke mana,” beber Bani.
Estetika Hongkong 90-an dalam Video Lirik
Sehari setelah single dirilis, video lirik “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)” hadir di kanal YouTube The Jansen pada 30 April 2026—dikemas dengan estetika visual ala film Hongkong dekade 90-an yang langsung menghadirkan atmosfer tersendiri. Lirik ditampilkan dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin—sebuah pilihan yang memperluas dimensi lagu ini melampaui batas bahasa.
P-Vine Records, Miles Records, dan Jangkauan yang Semakin Luas
Romantisasi Impulsif tidak hanya hadir secara digital. Untuk edisi fisik, The Jansen menggandeng dua label dari dua negara berbeda. CD dan vinyl akan dirilis oleh P-Vine Records—label legendaris asal Jepang yang dikenal sebagai rumah bagi berbagai musisi indie dan alternatif. Sementara edisi kaset akan hadir melalui Miles Records, label asal Malaysia yang aktif merilis musik underground dan eksperimental di kawasan Asia Tenggara.
Kolaborasi lintas negara ini bukan sekadar soal distribusi—ia mencerminkan posisi The Jansen yang semakin melampaui batas skena lokal.

Penutup Trilogi, atau Awal dari Sesuatu yang Baru?
Romantisasi Impulsif dijadwalkan rilis secara digital pada 22 Juli 2026, dengan edisi fisik menyusul kemudian. Dan dengan single pertama yang sudah membuktikan bahwa The Jansen masih bisa mengejutkan setelah lebih dari satu dekade—pertanyaan terbuka itu tetap menggantung: apakah ini akhir yang manis dari sebuah trilogi, atau justru awal dari babak yang sama sekali baru?
Single “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)” kini tersedia di seluruh platform musik digital.


