PYONG PYONG feat. Alby Moreno Rilis “Tak Ada Emas di Ujung Pelangi”, Pengingat untuk Tetap Membumi di Puncak Tertinggi

Dua puluh enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk tetap setia di jalur yang sama. Namun PYONG PYONG, band pop punk asal Semarang yang terbentuk sejak 1999, membuktikan bahwa konsistensi bukan sekadar soal bertahan—melainkan soal terus punya sesuatu yang bermakna untuk disampaikan. Single terbaru mereka, “Tak Ada Emas di Ujung Pelangi”, hadir di awal 2026 bersama kolaborator spesial Alby Moreno, vokalis MCPR, membawa pesan yang terasa relevan untuk siapa pun yang sedang berdiri di titik mula sesuatu yang baru.


Semarang, 1999, dan Masih Berbicara

Ada sesuatu yang layak dihargai dari band yang tetap aktif berkarya setelah lebih dari dua dekade. PYONG PYONG bukan nama yang tiba-tiba muncul dengan satu lagu lalu menghilang—mereka adalah bagian dari fondasi skena pop punk Indonesia yang tumbuh bersama generasi demi generasi pendengar.

Dan di awal 2026, mereka tidak datang dengan nostalgia. Mereka datang dengan single yang justru bicara tentang ke depan—tentang keberanian memulai, tentang perjalanan yang belum selesai, dan tentang apa yang harus tetap dijaga ketika seseorang akhirnya sampai di atas.


Kolaborasi yang Memperkuat Pesan

Untuk single ini, PYONG PYONG menggandeng Alby Moreno, vokalis MCPR, sebagai kolaborator. Pertemuan dua energi dari dua nama yang berbeda generasi dan latar belakang ini bukan sekadar penambahan warna—melainkan penguat pesan yang memang sejak awal sudah kuat berdiri sendiri.

Suara Alby memberi dimensi baru pada lagu ini: ada percakapan yang terjadi di dalamnya, antara pengalaman yang sudah panjang dan semangat yang masih menyala, antara yang sudah tahu jalan dan yang baru saja memulai melangkah.


Mulai dari Nol, Tapi Jangan Lupa Dari Mana Kamu Berasal

“Tak Ada Emas di Ujung Pelangi” adalah pengingat yang dikemas dalam energi pop punk yang khas—dan pesannya berlapis. Di permukaan, ini adalah lagu tentang keberanian memulai. Bahwa setiap perjalanan besar selalu dimulai dari niat, lalu satu langkah pertama yang seringkali terasa paling berat. Tanpa langkah itu, tidak akan pernah ada pencapaian yang menunggu di ujung jalan.

Namun lagu ini tidak berhenti di sana. Ada bagian kedua dari pesannya yang sama pentingnya: ketika nanti sudah berada di atas, jangan lupa untuk tetap membumi. Tetap menjadi manusia. Tetap memanusiakan manusia.

Di sinilah judul lagu menemukan maknanya yang paling dalam. Tidak ada emas di ujung pelangi—karena tujuan perjalanan bukan tentang apa yang menunggu di sana, melainkan tentang siapa kamu sepanjang perjalanan itu, dan siapa kamu ketika akhirnya sampai.


Break the Limit, Tapi Tetap Rendah Hati

PYONG PYONG mengemas semangat break the limit bukan sebagai seruan untuk menjadi yang paling tinggi, melainkan sebagai undangan untuk menghancurkan tembok ketidakbisaan yang sering kali kita bangun sendiri. Batas yang paling sering membatasi seseorang bukan yang datang dari luar—melainkan yang tumbuh dari dalam, dari rasa tidak percaya diri, dari ketakutan akan kegagalan, dari kebiasaan berhenti sebelum mencoba.

Dan ketika tembok itu akhirnya runtuh, ketika puncak itu akhirnya tercapai—lagu ini mengingatkan dengan tegas: jangan pernah merasa paling tinggi. Tetap rendah hati, tetap sadar diri.

Pesan yang sederhana, tapi tidak pernah basi untuk diulang.


Veteran yang Masih Punya Api

“Tak Ada Emas di Ujung Pelangi” adalah bukti bahwa PYONG PYONG masih punya banyak yang ingin dikatakan. Dua puluh enam tahun di industri musik bukan membuat mereka lelah bicara—justru memberi mereka perspektif yang lebih dalam tentang apa yang layak untuk disampaikan.

Single “Tak Ada Emas di Ujung Pelangi” kini tersedia di seluruh platform musik digital.

Scroll to Top