Dari Kebiasaan Berbicara Cepat Menjadi Identitas Musikal
Rapper pendatang baru Puri de Leona resmi memulai langkah debutnya di industri musik Indonesia melalui single berjudul “Don’t Say”, yang dirilis secara independen pada 31 Oktober 2025. Terlahir di Tasikmalaya dengan kebiasaan berbicara cepat sejak kecil, kemampuan tersebut kini menjadi ciri khas sekaligus identitas musikal yang membedakan Puri dari rapper muda lainnya.

Bagi Puri, kecepatan berbicara bukan sekadar kebiasaan, melainkan anugerah yang kemudian ia temukan sebagai medium paling jujur untuk mengekspresikan diri. Setelah melalui proses eksplorasi dan pencarian jati diri dalam bermusik, rap menjadi ruang eksklusif baginya untuk menyuarakan pikiran, keresahan, dan keberanian personal.
“Don’t Say” sebagai Langkah Awal yang Personal
Sebelum merilis karya solo, Puri sempat terlibat dalam proyek Sikawan bersama Project Qiu. Namun melalui “Don’t Say”, ia memilih untuk sepenuhnya berdiri atas namanya sendiri—baik sebagai penulis lagu maupun kreator visual. Single ini menjadi bentuk keberanian Puri untuk melawan batasan diri dan memperkenalkan karakter artistiknya secara utuh.
“Don’t Say” bukan sekadar debut, melainkan pernyataan awal tentang siapa Puri de Leona dan apa yang ingin ia sampaikan lewat musiknya.
Narasi Tentang Pikiran yang Membungkam
Secara tematik, “Don’t Say” menggambarkan perjalanan batin seseorang yang kerap terjebak dalam pikirannya sendiri. Lagu ini berbicara tentang momen ketika seseorang terlalu banyak berpikir hingga akhirnya memilih diam, membiarkan ketakutan menguasai langkahnya.

Namun alih-alih tenggelam dalam keheningan, lagu ini justru mengajak pendengarnya untuk berani bersuara. Pesan yang ingin disampaikan Puri terasa jelas: “just say it, even when it’s hard.” Lagu ini menyoroti kenyataan bahwa sering kali penghalang terbesar bukanlah situasi atau orang lain, melainkan pikiran kita sendiri.
Pesan tersebut ditegaskan dalam salah satu liriknya, “you can see the version that you’ve never known,” sebuah ajakan untuk membuktikan potensi diri—baik kepada diri sendiri maupun kepada mereka yang kerap memandang sebelah mata.
Proses Produksi yang Mandiri dan Eksploratif
“Don’t Say” ditulis oleh Puri de Leona dan diproduseri oleh Taufik Juliansyah (TOJI). Secara musikal, lagu ini hadir dengan nuansa yang sedikit gelap namun tetap terasa empowering. Puri terlibat langsung dalam hampir seluruh proses kreatif—mulai dari penulisan lirik, pengembangan konsep visual, hingga proses editing video dan foto.
Pendekatan ini menjadi bagian dari eksplorasi Puri sebagai musisi sekaligus kreator visual. Baginya, setiap detail adalah ruang bereksperimen yang menyimpan makna, dan akan terus dikembangkan melalui karya-karya berikutnya.
Musik sebagai Jurnal Perjalanan Hidup

Bagi Puri, keterlibatan penuh dalam proses produksi bukan hanya soal kontrol artistik, tetapi juga bentuk kejujuran terhadap dirinya sendiri. Ia ingin menikmati setiap tahapan penciptaan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang terekam lewat karya.
“Di usia yang mendekati 25 tahun, aku hanya ingin berkarya dan menjadikan karyaku sebagai bagian dari jurnal perjalanan hidupku,” ungkap Puri.
Melalui “Don’t Say”, Puri de Leona berharap semakin banyak orang berani berdamai dengan pikirannya sendiri—berani merasa, berbicara, dan menyuarakan hal-hal yang selama ini terpendam. Karena menurutnya, keberanian terbesar sering kali datang dari hal paling sederhana: menaklukkan diri sendiri.


