Methosa Rilis Single Baru “Pulanglah” tentang Ruang Kontemplasi di Tengah Tekanan Hidup

Di jam-jam ketika dunia terasa paling sunyi, ketika pikiran datang tanpa diundang dan kelelahan  terasa tak punya nama, lahir sebuah karya yang diberi tajuk “Pulanglah”. Sebuah lagu yang tidak  menawarkan solusi instan, melainkan ruang untuk menarik napas, waktu untuk berkontemplasi,  dan latar suara untuk bertanya kepada sanubari tentang kemana dan apa sebenarnya yang menjadi tujuan kita dalam kehidupan.  

Di tengah narasi besar tentang kemajuan dan kebahagiaan, ada kegelisahan yang terus hidup  diam-diam di masyarakat. Kita sering diberi gambaran bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa  kita adalah bangsa yang bahagia.  

Namun narasi itu tak seindah realita. Tekanan hidup, kelelahan emosional, dan rasa kalah dalam  kehidupanlah yang datang dan ini menjadi hal yang sangat jarang kita beri ruang untuk diakui.  Dalam kehidupan, kita sangat siap menyambut kemenangan tanpa menyisakan sedikitpun ruang  untuk menerima kekalahan. Ketika kalah datang dalam karier, relasi, atau kehidupan, banyak  orang merasa gagal, merasa tidak pantas, merasa dipecundangi, bahkan mempertanyakan nilai  hidupnya sendiri. Di titik itu, kita sering lupa hakekat hidup yang paling sederhana: bahwa hidup  bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan tentang menjalani dan bertahan.  

Fenomena ini bukan hal kecil. Tekanan untuk selalu kuat, tuntutan agar tidak mengeluh, dan  standar keberhasilan yang sempit membuat banyak orang memendam semuanya sendirian.  Padahal, ada tempat untuk mengeluh. Ada rumah, ada Tuhan, ada Teman.  

Alih-alih memberi nasihat atau jawaban, lagu “Pulanglah” justru memilih dirinya untuk menjadi  teman. Saat dua sukma dalam diri manusia sedang berdiskusi atau mungkin berseteru,  “Pulanglah” yang berusaha meneduhkan suasana dan menyarankan untuk mengambil waktu  agar keputusan yang ditempuh di depan tidak keliru. 

 “Pulanglah” adalah teman bagi mereka yang mau berproses, bagi siapapun yang terpuruk dalam  ‘perjalanannya’, bagi setiap jiwa yang berani untuk mengakui kekalahan dan siap bangkit  kembali, dan bagi insan yang tau sebenarnya dimana ‘rumah’nya berada, karena kesana dia akan  pulang untuk bercerita, berdiskusi, atau mungkin menangis.  

Semoga setiap jiwa yang berjuang untuk orang-orang yang mereka kasihi selalu didukung dan  didoakan juga oleh orang-orang yang mengasihi mereka.  

Kita pasti tahu bagaimana cara merayakan kemenangan, mari menjadi adil dengan berani  merayakan dan menikmati kekalahan, dinamika ini adalah pertanda bahwa kita sedang hidup. 

Scroll to Top