Geisha Rilis “Geram”, Ketika Diam Bukan Lagi Pilihan dan Kesabaran Akhirnya Menemukan Batasnya

Tidak semua kemarahan datang dengan suara keras. Ada yang tumbuh dalam diam, menumpuk perlahan di balik senyum yang dipaksakan, di balik pertanyaan yang tidak pernah diajukan, di balik kepercayaan yang dijaga meski tanda-tanda pengkhianatan sudah mulai terasa. Geisha menangkap kemarahan jenis itu dalam single terbaru bertajuk “Geram”—yang resmi dirilis pada 15 April 2026 di seluruh platform musik digital, dengan music video menyusul di kanal YouTube resmi Geisha Indonesia pada 22 April 2026.


Bukan Nostalgia—Teman Hidup yang Tumbuh Bersama

Geisha hadir dalam formasi yang kini terdiri dari Regina Poetiray di vokal, Nard di bass, dan Dhan di keyboard. Dan mereka ingin menegaskan satu hal dengan jelas: Geisha bukan band nostalgia. Mereka adalah teman hidup yang tumbuh bersama pendengarnya—yang terus menghadirkan karya yang relevan, lintas generasi, dan selalu berakar pada emosi yang paling manusiawi.

“Geram” adalah bukti terbaru dari komitmen itu.


Akumulasi yang Terlalu Lama Dipendam

“Geram” bercerita tentang seseorang yang telah menjaga, mencintai dengan tulus, dan mempertahankan hubungan dengan segenap tenaga—hingga semuanya runtuh ketika kehadiran orang ketiga mengungkap kenyataan yang selama ini tersembunyi. Bukan hanya soal pengkhianatan itu sendiri, melainkan tentang semua yang harus ditanggung sendirian selama proses itu berlangsung.

“Geram adalah titik di mana seseorang tidak lagi bisa menahan semuanya sendirian. Bukan sekadar marah, tapi akumulasi dari rasa kecewa dan sakit yang terlalu lama dipendam,” ungkap Geisha.

Akumulasi itu terasa hadir di setiap baris lirik lagu ini. Ketika kesabaran berubah menjadi kemarahan, dan cinta yang dijaga justru dihancurkan oleh orang yang paling dipercaya—yang tersisa bukan hanya luka, melainkan kebencian yang tidak tahu harus ke mana.


Lirik yang Menghujam Tepat di Titik Paling Sakit

Kekuatan “Geram” terletak pada cara ia menyampaikan emosi tanpa harus berlebihan. Baris “Geram rasa hatiku, tak terima kau sayat lubuk hatiku, hingga terkoyak tumpahkan luka” adalah representasi dari perasaan yang sudah tidak bisa ditahan—bukan ledakan impulsif, melainkan pengakuan yang datang setelah terlalu lama disimpan.

Intensitas itu mencapai puncaknya di bagian “Sungguh benci, benci kamu dan dia”—sebuah pernyataan yang terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka setelah lama dikunci dari dalam. Tidak ada basa-basi. Tidak ada eufemisme. Hanya kejujuran yang mentah dan menyakitkan.


Regina, Amarah yang Ditahan di Balik Layar

Music video “Geram” membawa cerita lagu ini ke dimensi yang lebih visual dan lebih intim. Regina Poetiray memerankan langsung seorang istri yang perlahan menyadari perselingkuhan suaminya—bukan melalui konfrontasi besar, melainkan melalui detail-detail kecil yang mulai tidak bisa diabaikan: perubahan sikap, aroma parfum yang tidak familiar, jarak yang semakin tidak bisa dijelaskan.

Yang paling kuat dari penampilan Regina di video ini adalah pilihan untuk tidak meledak. Ia memendam. Ia menahan. Ia menjadi pasrah seiring kesadarannya tumbuh—dan justru itulah yang paling menyakitkan untuk disaksikan. Karena geram yang paling dalam bukan yang berteriak, melainkan yang diam dan tahu.


Titik Batas yang Semua Orang Punya

“Geram” akhirnya adalah pengingat—bahwa setiap orang memiliki titik batas, dan tidak ada yang salah dengan akhirnya mengakuinya. Bahwa tidak semua orang yang terlihat tenang benar-benar baik-baik saja. Bahwa rasa sakit yang tumbuh dalam diam justru sering kali yang paling menghancurkan.

Dan bahwa geram, pada akhirnya, bukan sekadar amarah—ia adalah kelelahan yang sudah terlalu lama tidak diberi nama.

Single “Geram” kini tersedia di seluruh platform musik digital. Music video resminya dapat disaksikan di kanal YouTube Geisha Indonesia mulai 22 April 2026.

Scroll to Top