Telah dirilis EP perdana “shugora” (seluruhnya berhuruf kecil) bertajuk “Still Here, Somehow” pada 13 Februari 2026 yang dapat didengarkan di seluruh platform streaming digital. Rilisan ini berisikan 4 lagu dengan durasi total 14 menit. Beberapa judul lagunya termasuk; Low Gravity, Told Ya (Now I Feel Stupid), How Many Times, dan juga Why Can’t I Just Leave.

Dikerjakan secara independen hanya berdua bersama sang kakak di tengah keterbatasan sebagai mahasiswa yang serba pas-pasan, EP ini lahir dari pengalaman pribadi dan proses emosional yang tak selalu stabil. “Girl only has a dream and a few questionable skills,” ujar shugora dalam postingan akun X nya. “But here it is.”
Secara keseluruhan, keempat track dalam rilisan ini membentuk satu perjalanan emosional tentang ketergantungan, kesadaran, dan ketidakmampuan untuk melepaskan. Dimulai dari “Low Gravity” yang menggambarkan stagnasi dengan sensasi mengawang, berlanjut ke “Told Ya (Now I Feel Stupid)” yang lebih eksplosif dan penuh frustasi melalui irama upbeat-nya; tentang perasaan bodoh karena mengulangi kesalahan yang sama meski sudah diperingatkan oleh orang terdekat. “How Many Times” kemudian beranjak menjadi momen refleksi yang personal tentang depresi, mental health, dan juga relapse cycle. Puncak emosinya hadir dalam “Why Can’t I Just Leave”, yang bercerita tentang momen terjebak dalam lingkaran pertanyaan “what if”. Momen ketika seseorang terus-menerus mempertanyakan dan mempertimbangkan segala kemungkinan. Kita pasti pernah berada di titik dihantui oleh kegamangan itu, kan? Secara keseluruhan, rilisan ini merupakan studi kasus tentang emotional dependency. Tentang bagaimana seseorang bisa begitu sadar akan pola-pola yang tidak sehat, namun tetap terjebak di dalamnya.
Tentang Low Gravity
Keunikan musikalitas langsung terasa pada track pembuka berjudul “Low Gravity”. “Jawa, but make it cosmic!” ujar shugora ketika menggambarkan pendekatan kreatifnya dalam lagu ini. Ia memadukan warna melodi yang terinspirasi dari tangga nada khas lagu-lagu tradisional Jawa dengan lanskap produksi yang atmosferik dan modern. Sentuhan progresi chord akrobatik serta modulasi di bagian akhir lagu menghadirkan nuansa yang tak terduga, seolah membawa pendengar dari ruang yang intim ke dimensi yang lebih luas dan mengawang. Perpaduan elemen tradisional dan pendekatan sonik yang kontemporer ini memperkaya tekstur musikal “Low Gravity” sekaligus mempertegas identitas shugora dalam meramu referensi budaya lokal dengan eksplorasi bunyi-bunyian kosmik nan imersif. Juga melalui lirik yang minimal beserta repetisinya, lagu ini merepresentasikan kondisi mental seseorang yang berada dalam fase stagnasi. Lagu ini juga merupakan pengalaman stuck in grief. “I know I should let this go now. But nothing pulls me away from here.” Berbicara tentang kondisi ketika seseorang tahu bahwa Ia harus melepaskan sesuatu, namun tetap bertahan di tempat yang sama karena tak ada alasan lain untuk beranjak dari tempat tersebut. Sepanjang dua menit durasinya, lagu ini hanya mengulang dua bait tersebut tanpa adanya lirik tambahan. Penolakan terhadap struktur atau bagan lagu konvensional menjadi statement artistik tersendiri. Repetisi digunakan sebagai penekanan terhadap sensasi terjebak dalam lingkaran setan.
Tentang Told Ya (Now I Feel Stupid)
Kejujuran emosional semakin diperlihatkan dalam track kedua berjudul “Told Ya (Now I Feel Stupid)”. Lagu dengan iringan upbeat ini mempunyai lirik yang lugas tentang unhealthy attachment. Lagu ini menangkap momen frustratif ketika kesadaran tidak cukup untuk menghentikan kebiasaan lama. Satu lirik yang menggambarkan bagaimana satu notifikasi sederhana “Then your name pops up and I fall right through. Guess I never learn what letting go means” cukup untuk meruntuhkan semua niat dan boundaries yang sudah susah payah dibangun. Satu kenyataan pahit bahwa diri sendiri kembali kalah oleh satu nama yang muncul di layar. Lagu ini juga membahas tentang bagaimana seseorang yang sadar sepenuhnya bahwa Ia sedang mengulang kesalahan yang sama tapi tetap melakukannya. “All of my friends said, ‘Told you so, won’t you just learn?’” menjadi gambaran tentang bagaimana rasa malu yang muncul ketika hati nurani diri sendiri dan juga nasihat orang-orang terdekat ternyata ada benarnya. Sadar dengan kondisi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi tak membuat hal itu berbanding lurus dengan perubahan meskipun semua orang di sekitar lelah menasehati (Memang jatuh cinta itu membutakan).

Tentang How Many Times
Track ketiga, “How Many Times” memperluas lanskap emosional itu melalui aransemen lirih berkat kolaborasi iringan piano gubahan Nasrudin Mardiansyah. Musisi sekaligus produser musik yang terkenal dengan karya instrumental piano-nya “hi, butterflies.” yang telah didengarkan lebih dari 1.000.000+ streams di platform Spotify tersebut memberikan sentuhan dramatik pada bagan akhir lagu. Secara musikal, chorus yang minimal dengan pengulangan “Oooh… Still here somehow” menghadirkan kontras emosional yang kuat. Sejalan dengan tema lirik yang dibawakan tentang mental health, lagu ini begitu personal bagi shugora, menjadi kanvas yang ditumpahkan segala perasaannya tentang relapse dan siklus mental health yang terasa tak berujung. Lagu ini menangkap momen ketika seseorang berpikir dirinya sudah membaik, hanya untuk kembali jatuh ke ruang gelap yang sama. Pertanyaan “How many times?”, tentang berapa kali harus mengulang fase yang sama, menghadapi depresi yang datang dan pergi, dan mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa healing tidak selalu berjalan lurus.
Tentang Why Can’t I Just Leave
Track keempat, “Why Can’t I Just Leave”, menjadi titik paling kontemplatif dalam rangkaian lagu-lagu dalam EP. Lagu ini menggambarkan saat terjebak dalam pusaran pertanyaan yang tak pernah selesai; “What if we work? What if we don’t?” Chorusnya merepresentasikan kondisi ketika seseorang terus-menerus mempertimbangkan segala kemungkinan tetap dalam hubungan itu atau pergi, sampai hingga akhirnya tidak benar-benar mengambil langkah apa pun. Lirik seperti “We ain’t seventeen, we’re supposed to know” menyiratkan kesadaran kedewasaan bahwa pada usia dan fase hidup tertentu, seseorang seharusnya sudah bisa membedakan mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus ditinggalkan. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. “Leaving feels like I’d lose my home” memperlihatkan bahwa hubungan yang sebegitu dekatnya dengan kehidupan seseorang dapat memperkuat emotional attachment. Sehingga, kepergian seseorang bahkan terasa seperti kehilangan dunia. Secara emosional, “Why Can’t I Just Leave” merupakan puncak dari perjalanan batin dalam EP ini: sebuah pengakuan bahwa aware saja tidak cukup dan tidak otomatis membawa kebebasan. Justru kegamangan dan menyadari bahwa “What if the ending’s already known? I keep rewinding but nothing’s new,
and maybe that’s still the saddest truth”, lagu ini seolah menerima bahwa tidak semua kisah memiliki penyelesaian yang baik.
Tentang EP ini

Still Here, Somehow merupakan eksplorasi alt-pop independen dengan pendekatan minimalis atmosferik sekaligus energik. Secara tema, EP ini hadir sebagai studi kasus tentang emotional dependency. Bagaimana seseorang bisa sangat sadar terhadap pola-pola tak sehat yang dijalani, namun tetap memilih bertahan.
“EP ini aku tulis dari berbagai pengalaman dan fase hidup. Gabungan dari banyaknya pikiran yang ada di dalam kepala atas refleksi hidup sehari-hari aku tuangkan ke dalam 4 lagu ini” ujar shugora. “Lirik-liriknya yang berasa lugas aku dapetin dari kekesalan dan responku terhadap situasi-situasi yang pernah aku alami atau orang lain alami. Semuanya aku kumpulin jadi satu di EP ini. Bisa dibilang semua lagu di EP ini begitu personal buatku.” Pilihan artistiknya berhenti di ruang yang menggantung karena di dunia nyata, tidak semua cerita selesai dengan elegan, tidak semua kisah cinta persis seperti di film-film.


