Skena musik Yogyakarta kedatangan nama baru — tapi dengan wajah-wajah yang tidak asing. DYSCOPIA resmi memperkenalkan diri melalui single perdana bertajuk “Memori Kolektif”, yang dirilis pada 16 Oktober 2026 di bawah naungan label independen Seneca Asilum.

Proyek musik baru dengan orang-orang lama dari skena Jogja — dan dari pertemuan itu lahir sesuatu yang terasa segar sekaligus matang.
Dystopia yang Memilih untuk Tidak Muram
Nama DYSCOPIA adalah dekonstruksi dari kata dystopia — dan itu bukan kebetulan. Mereka memang ingin membicarakan fenomena sosial, pengalaman manusia, dan berbagai hal yang kerap luput dari perhatian di tengah ritme kehidupan modern. Tapi cara mereka menyampaikannya tidak melalui musik yang berat dan sarat tekanan.
Sebaliknya, DYSCOPIA memilih Happy Rock Uplifting dan Modern Rock — riff gitar yang enerjik, ritme yang bergerak cepat, dan melodi yang terasa ringan. Kontras antara tema lirik yang reflektif dan karakter musik yang ceria menjadi bagian dari identitas kreatif mereka yang paling menonjol.
“Kami ingin membicarakan fenomena sosial, pengalaman manusia, motivasi, hingga nasihat melalui musik yang tetap terasa ringan dan mudah dinikmati.”
— Yustin Prihantara, vokalis DYSCOPIA
Ingatan yang Terbentuk dari Apa yang Dikerjakan Bersama
“Memori Kolektif” lahir dari pengamatan Adi Setyawan, gitaris sekaligus penulis lagu, terhadap orang-orang di sekitarnya yang sedang berproses menciptakan sesuatu bersama. Dari situasi itu ia mengembangkan gagasan yang terasa dekat namun jarang dipikirkan secara sadar: bahwa setiap hal yang dikerjakan bersama hari ini berpotensi menjadi ingatan di masa depan.
“Lagu ini membawa pesan bahwa setiap hal yang dikerjakan bersama hari ini berpotensi jadi memori pada masa depan. Lebih dari sekadar catatan tentang suatu peristiwa, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari identitas kelompok sekaligus merefleksikan nilai-nilai yang mereka anut.”
— Adi Setyawan
Lagu ini menjadi motivasi sekaligus pengingat bagi siapa pun yang sedang memperjuangkan sesuatu bersama orang lain — bahwa apa yang dilakukan dalam sebuah proses bukan hanya menentukan hasil akhir, melainkan juga membentuk cerita yang kelak akan diingat dan menjadi bagian dari perjalanan bersama.
Lima Musisi, Satu Ruang Kreatif Baru
DYSCOPIA diperkuat oleh lima personel yang masing-masing membawa rekam jejak panjang di skena musik Yogyakarta: Yustin Prihantara (vokal), Adi Setyawan (gitar), Alvian Vinuria (drum), Adi Wijaya (keyboard), dan Panji Karna (bass).
Adi Setyawan masih aktif sebagai gitaris Morning Horny, unit punk rock era 2000-an yang tetap eksis hingga kini. Yustin Prihantara dikenal sebagai mantan vokalis The Flash dan kini juga berkarya bersama Afterskema. Alvian Vinuria adalah drummer yang sebelumnya dikenal lewat LaQuena dan kini aktif di Eastern Gangster. Adi Wijaya adalah dosen musik yang masih aktif bermain bersama The Monophones dan Konfigurasi A2R. Sementara Panji Karna adalah bassis dengan fokus pada musik klasik dan jazz yang sempat membentuk kelompok Gaban n Friend.
Latar belakang mereka sebagai akademisi, praktisi, dan pengajar musik turut membentuk cara DYSCOPIA bekerja — dari notasi balok yang disiapkan Adi Setyawan, diperkaya melalui sesi workshop bersama, hingga memasuki tahap rekaman dengan komposisi yang sudah matang secara kolektif.
Diproduksi Bersama Momo Captain Jack di Meru Records
Untuk aspek produksi, DYSCOPIA menggandeng Momo Biru alias Momo Captain Jack — yang terlibat tidak hanya dalam pekerjaan teknis rekaman, tapi juga memberikan masukan tentang permainan instrumen, ketukan drum, penggunaan synthesizer, dan desain suara. Seluruh proses mixing dan mastering dikerjakan di Meru Records.
Langkah Pertama Menuju Album 2027
“Memori Kolektif” adalah awal dari perjalanan yang lebih panjang. DYSCOPIA berencana merilis karya secara bertahap dalam format single, dengan target album penuh yang diharapkan terwujud pada 2027. Video lirik akan segera menyusul melalui kanal YouTube DYSCOPIA.
Single “Memori Kolektif” dari DYSCOPIA kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital.


