Dari ruang kelas SMK Telkom Banjarbaru ke platform musik digital — perjalanan Dialoka dimulai di sini. Band yang dibentuk oleh para murid sekolah tersebut resmi merilis single debut mereka bertajuk “Theta” pada 28 Mei 2026, mengangkat keresahan yang terasa sangat nyata: cinta yang mudah digoyahkan oleh perbedaan keyakinan dan tekanan orang-orang di sekitarnya.

Keresahan yang Jadi Titik Awal
“Theta” bukan lagu yang lahir dari ruang hampa. Di baliknya ada kegelisahan yang konkret: situasi percintaan di zaman sekarang yang begitu mudah “disetir” oleh orang lain, terutama ketika dua orang yang saling mencintai datang dari keyakinan yang berbeda.
Dialoka memilih untuk tidak diam. Mereka menuangkan keresahan itu ke dalam musik — menjadikan single debut mereka bukan sekadar perkenalan, tapi juga pernyataan tentang hal yang mereka pedulikan.
“Theta” dan Gelombang Otak yang Membawa ke Alam Mimpi
Judul “Theta” diambil dari makna gelombang frekuensi otak yang muncul saat manusia tidur dan bermimpi. Lewat konsep ini, Dialoka mengajak pendengar untuk melihat tidur sebagai “pelarian termudah” dari realita — sebuah ruang di mana tekanan dan penilaian orang lain tidak bisa masuk.
“Kami ingin memainkan imajinasi pendengar saat mendengar lirik di lagu Theta. Tidak hanya sekadar mendengar, tetapi menikmati lagunya.”
— Obi, bassis & produser Dialoka
Sebuah konsep yang sederhana namun kuat — dan tepat sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan dunia Dialoka kepada pendengar yang lebih luas.
Blues dan Alternative Rock yang Membawa Pendengar Hanyut
Secara musikal, “Theta” memadukan blues dan alternative rock dalam satu kemasan yang enerjik namun tetap punya kedalaman. Kombinasi vokal Aping dan Khaidar yang berbisik menciptakan suasana intim sekaligus misterius — seperti suara yang datang dari tepian antara sadar dan tidur.
Di atas fondasi vokal itu, petikan gitar Ferza dan Naufal serta ketukan drum Chio yang dinamis menyusun lapisan suara yang membawa pendengar perlahan terlarut dalam suasana mimpi yang gelisah namun penuh harapan. Seluruh elemen ini diproduseri langsung oleh Obi (Obimael Jaday), bassis sekaligus otak di balik produksi “Theta”.
Dari Acara Internal Sekolah ke Debut Digital
Dialoka terbentuk pada 2024, bermula dari kebutuhan yang paling sederhana: mengisi acara-acara internal di SMK Telkom Banjarbaru. Di sinilah Aping dan Khaidar pertama kali menjadi suara yang mewakili perasaan guru-guru dan teman-teman yang hadir. Di sinilah Ferza dan Naufal mulai membangun chemistry sebagai gitaris. Dan di sinilah Chio meletakkan fondasi ritme yang menjadi tulang punggung band ini.
Nama Dialoka sendiri diambil dari kata “Dialektika” — sebuah pilihan nama yang tidak sembarangan. Ia mencerminkan cara band ini bekerja: mengedepankan diskusi antar anggota untuk mencari solusi, bukan memaksakan satu suara di atas yang lain.
Dari panggung sekolah ke debut digital adalah lompatan yang tidak kecil. Dan “Theta” membuktikan bahwa Dialoka sudah siap untuk melakukannya.
Single “Theta” dari Dialoka kini telah tersedia di Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan seluruh platform musik digital.


