Avhath Rilis Album Penuh Pertama Setelah 14 Tahun, Sebuah Kulminasi yang Tidak Pernah Direncanakan

Avhath akhirnya di sini. Kuintet metal/hardcore asal Jakarta Selatan yang sudah berjalan sejak 2012 ini merilis album penuh pertama mereka — yang juga bertajuk Avhath — pada 9 Oktober 2026, menjadi rilisan ke-17 dalam perjalanan band yang tidak pernah terburu-buru.

Setelah diperkenalkan lewat single “amassed” pada September lalu, album ini hadir sebagai sesuatu yang, menurut mereka sendiri, tidak pernah benar-benar direncanakan — dan justru karena itulah ia terasa seperti hal yang paling jujur yang pernah mereka buat.


Panggilan, Bukan Rencana

Dalam catatan produsernya, Reynir menggambarkan proses kreatif album ini bukan sebagai sesuatu yang dirancang dari awal, melainkan sebagai panggilan kolektif yang tumbuh dengan sendirinya.

Gagasan untuk membuat album penuh tidak lahir dari keputusan besar atau tekanan eksternal. Ia hadir perlahan, hingga pada satu titik terasa tak terhindarkan — seperti sesuatu yang memang sudah seharusnya ada.

Avhath tidak dimulai dengan konsep besar. Mereka memercayai insting dan membiarkan album menemukan bentuknya sendiri sepanjang proses — dari penulisan lagu, lirik, hingga penataan artwork.


Reynir Mengambil Kursi Produser

Dalam pengerjaan album ini, Reynir mengambil peran baru sebagai produser utama. Pengalaman Avhath bekerja bersama berbagai produser dan engineer dalam rilisan-rilisan sebelumnya membentuk cara pandang baru: bahwa keputusan teknis seharusnya mengikuti musik, bukan sebaliknya.

Proses recording berlangsung di rekamkamar bersama recording engineer Rama Harto. Mixing dikerjakan oleh Rama Harto, Reynir, dan Ekrig. Untuk mastering, Avhath mempercayakan format digital kepada Will Killingsworth dari Dead Air, sementara format kaset, CD, dan vinyl ditangani oleh Colin Marston dari Menegroth, The Thousand Caves — pilihan nama-nama yang berbicara tentang seberapa serius Avhath mendekati album ini dari setiap sisi.


Sembilan Fragmen tentang Kehadiran yang Parasitik

Album ini berisi sembilan nomor. Dibuka oleh “Genesis.” — sebuah komposisi instrumental yang menjadi pintu masuk ke dalam dunia album — delapan lagu berikutnya bergerak melalui fragmen dan sudut pandang yang berbeda terhadap satu tema sentral: sebuah kehadiran parasitik yang dapat dimaknai secara harfiah maupun metaforis.

Ekrig, yang menulis seluruh lirik dalam album ini, memilih untuk tidak merangkainya menjadi narasi yang rapi dan utuh. Setiap fragmen dibiarkan berdiri dalam ambiguitasnya sendiri — ingatan, persepsi, tubuh, keyakinan, dan kenyataan saling tumpang tindih, membentuk pengalaman di mana batas antara apa yang terjadi, apa yang dirasakan, dan apa yang mungkin hanya dibayangkan semakin kabur.

Bukan sebuah cerita yang bisa disimpulkan dalam satu kalimat. Melainkan sesuatu yang harus dirasakan dari dalam.


Kulminasi, Bukan Pengulangan

Dalam banyak hal, Avhath adalah kulminasi dari 14 tahun perjalanan musikal yang dibangun lagu demi lagu, rilisan demi rilisan. Pendengar lama akan menemukan banyak hal yang terasa familiar — karakter, intensitas, atmosfer yang sudah menjadi tanda tangan band ini. Tapi album ini tidak sekadar mengulang apa yang sudah pernah dilakukan.

Ia merangkum berbagai elemen tersebut, membawanya ke arah yang lebih utuh, dan sekaligus membuka ruang bagi Avhath untuk bergerak ke wilayah yang belum pernah mereka tempuh sebelumnya.

Empat belas tahun menuju sini. Dan album pertama ini terasa seperti awal dari babak yang baru.

Album Avhath kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital.

Scroll to Top