Lirik dan Makna Lagu “Malang Suantai Sayang” – Lagu Terbaru Sal Priadi Untuk Kota Malang

Lagu “Malang Suantai Sayang” adalah persembahan Sal Priadi untuk kota kelahirannya, Malang. Melalui musik yang hangat dan lirik penuh detail lokal, Sal merayakan keindahan, keramahan, dan identitas unik kota ini. Berikut lirik lengkapnya beserta analisis maknanya.


Lirik Lengkap “Malang Suantai Sayang”

Ada satu tempat yang
Benar-benar suantai, sayang
Pemandangannya, tinggal sebut saja
Mau pantai ada, gunung-gunung juga
Bahkan yang lengkap, ada air terjunnya

Dan tempat suantai itu
Menyimpan banyak cerita
Cerita yang lucu, yang lugu-lugu
Yang senang-senang, ugal-ugalan
Bahkan yang sedih, sedihnya sesenggukan

Ku persembahkan Malang
Dengan penuh keterusterangan
Tidak ada yang perlu kau takutkan
Kecuali kau habiskan siangmu di Jalan Kawi
Gendutlah, kau gendut
Jatuhlah hatimu
Bila setelah itu kau kejar
Pergi ke bukit-bukit
(Lihat apa di sana?)
Lihat sunset yang cantik

Kipa ilakes
Mbois ulales
Masuk get
Wuih, apa isker?
Kida e nawak
Malang suantai, sayang
Malang suantai, sayang

Ada satu tempat yang
Benar-benar suantai, sayang
Orang-orangnya, senyum manisnya
Cara bicaranya kata dibalik-balik
Coba sapa saja, mereka nggak gigit

Ku persembahkan Ngalam
Dengan penuh keterusterangan
Tidak ada yang perlu kau takutkan
Kecuali kau habiskan siangmu di Jalan Kawi
Gendutlah, kau gendut
Jatuhlah hatimu
Bila setelah itu kau kejar
Pergi ke bukit-bukit
(Lihat apa di sana?)
Lihat sunset yang cantik (Sunset yang cantik)

Malang suantai, sayang


Makna Lirik per Bagian

1. Ada Satu Tempat yang Benar-Benar Suantai

Bagian pembuka ini memperkenalkan Malang sebagai kota yang santai dan indah. Sal menekankan keberagaman alamnya: pantai, gunung, dan air terjun. Malang digambarkan sebagai kota yang punya semua jenis lanskap.

2. Menyimpan Banyak Cerita

Kota ini bukan sekadar indah, tapi juga menyimpan beragam kisah. Ada cerita lucu, polos, liar, hingga tragedi. Ini menunjukkan bahwa Malang adalah kota yang hidup, penuh warna, dan sarat pengalaman.

3. Jalan Kawi dan Cinta pada Pandangan Pertama

Jalan Kawi disebut sebagai ikon kuliner dan keramaian. Ajakan “gendutlah” terasa humoris, seolah mempersilakan untuk menikmati kuliner sepuasnya. Setelahnya, pendengar diajak mengejar matahari terbenam di perbukitan.

4. Bahasa Walikan dan Identitas Lokal

“Kipa ilakes” (Apik sekali) dan “Mbois ulales” (Mbois sekali) adalah contoh bahasa walikan khas Malang. Bagian ini memperkuat identitas lokal dan rasa keakraban kota.

5. Orang-Orang dan Senyum Malang

Penduduk Malang digambarkan ramah, murah senyum, dan punya cara bicara unik. Sapaan terasa hangat dan aman, membuat siapa pun betah.

6. Persembahan untuk ‘Ngalam’

‘Ngalam’ adalah Malang versi bahasa walikan. Pengulangan bait ini menegaskan rasa cinta mendalam Sal pada kotanya.

7. Penutup Hangat

Frasa “Malang suantai, sayang” menjadi klimaks sederhana namun kuat: Malang adalah rumah yang santai, nyaman, dan penuh cerita.


Kesimpulan Makna
Lagu ini adalah ungkapan cinta Sal Priadi terhadap Malang — mulai dari alamnya, orang-orangnya, hingga bahasa dan budaya khasnya. Ia menulisnya seperti menulis surat terbuka untuk semua orang agar merasakan kenyamanan dan kebanggaan yang ia rasakan.

Scroll to Top