ZZUF Kembali dengan Album Self-Titled, 15 Track Penuh Kejutan dari Brass Section hingga Kolaborasi Musisi Jepang

ZZUF kembali — dan mereka tidak datang dengan setengah-setengah.

Album penuh kedua yang menggunakan nama band itu sendiri sebagai judul, ZZUF, resmi hadir di seluruh platform streaming digital mulai 11 September 2026. Lima belas track sekaligus, dengan deretan kejutan yang membuktikan bahwa jeda panjang dari album penuh digunakan dengan sangat baik.


Eksplorasi yang Tidak Tanggung-Tanggung

Album self-titled ini adalah gambaran panjang dari semua proses yang ZZUF jalankan selama pembuatan — termasuk eksperimen-eksperimen yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Dan dari awal hingga akhir, album ini terasa seperti band yang sedang menjelajahi wilayah bermusik baru sambil tetap tahu persis siapa mereka.


Tiga Kolaborasi yang Masing-Masing Punya Ceritanya Sendiri

Untuk pertama kalinya dalam perjalanan mereka, ZZUF membuka pintu untuk berkolaborasi dengan musisi dan band lain — dan mereka melakukannya tiga kali sekaligus.

Delpi Suhariyanto alias softtrauma — yang juga dikenal sebagai personil Dongker — hadir dalam lagu “I Smile”, menulis lirik sekaligus mengisi bagian vokal. Alasannya sederhana: ZZUF merasa Delpi adalah orang yang paling tepat untuk lagu itu, dan pilihan itu terasa tepat.

Kolaborasi kedua datang dari Jepang. Deathro hadir dalam lagu “Sagamihara” — sebuah kolaborasi yang lahir dari imajinasi ZZUF yang membayangkan nuansa musik lagu itu seperti soundtrack film anime. Ketika ide itu dilempar kepada Deathro, responsnya sangat positif — ia kemudian menulis lirik yang mengangkat kisah tentang kota Sagamihara, sebuah tempat yang menyimpan kenangan dan cerita tersendiri baginya.

Kolaborasi ketiga melibatkan band After Hours, yang mengisi vokal perempuan dalam lagu “Signing Out”. Kebetulan yang menyenangkan: Pandu sebelumnya pernah menggarap mixing dan mastering salah satu lagu After Hours, sehingga chemistry antara keduanya sudah ada jauh sebelum kolaborasi ini terjadi.


Brass Section, Bahasa Indonesia, dan Anime ’90-an

Selain kolaborasi, album ini menyimpan beberapa keputusan berani lainnya.

Brass section hadir di beberapa lagu — sesuatu yang belum pernah ZZUF coba sebelumnya. Awalnya hanya coba-coba, tapi hasilnya cocok, langsung dieksekusi. Inisiatif yang lahir dari keberanian untuk tidak membatasi diri.

Setengah dari 15 track dalam album ini ditulis dalam Bahasa Indonesia — sebuah pilihan yang langsung memberikan nuansa yang sangat berbeda di masing-masing lagu. Kedekatan bahasa dengan pesan yang ingin disampaikan menjadi alasan utama di balik keputusan ini.

Dan untuk sisi visual, ZZUF menggandeng Thalia, ilustrator yang dikenal lewat karya-karyanya bernuansa anime. Berbeda dari rilisan sebelumnya yang selalu menggunakan konsep fotografi, album ini hadir dengan ilustrasi anime modern yang terinspirasi dari estetika era ’90-an — dengan karakter utama yang dirancang curvy dan ekspresif, memadukan nostalgia dengan pendekatan ilustrasi kontemporer. Artwork ini bukan hanya sampul — ia adalah bagian dari identitas keseluruhan album.


Lima Belas Cerita, Satu Album

Setiap lagu dalam album self-titled ZZUF mewakili ceritanya masing-masing. Lima belas track yang tidak hanya menunjukkan seberapa jauh ZZUF sudah berkembang, tapi juga seberapa jauh mereka berani melangkah dari zona nyaman mereka sendiri.

Album penuh kedua ZZUF kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital.

Scroll to Top