Ray Shabir tidak datang sebagai pendatang baru yang masih mencari suaranya. Ia datang dengan suara yang sudah ditemukan — hanya saja baru sekarang memilih untuk membawanya ke dalam musik.

Singer-songwriter dan penyair asal Jakarta ini resmi merilis single debut bertajuk “Falling” pada 7 Agustus 2026, tersedia di seluruh platform streaming digital. Dan dari momen pertama lagu ini berputar, sudah jelas bahwa ini bukan perkenalan yang berhati-hati. Ini langsung membawamu masuk.
Bukan Karya Pertama, tapi Rilisan Pertama
“Falling” adalah lagu pertama yang pernah Ray Shabir rilis — tapi bukan hal pertama yang pernah ia buat. Sebagai penulis yang sudah menerbitkan karya-karyanya, Ray hadir ke dunia musik dengan fondasi yang tidak banyak pendatang baru miliki: kemampuan mengolah bahasa menjadi sesuatu yang terasa visceral, presisi, dan jujur.
Musik memang selalu ada di pinggiran hidupnya. Tapi tidak pernah benar-benar ia tekuni. Sampai “Falling” datang dan mengubah itu.
Tentang Jatuh Cinta yang Berulang dan Menjadi Spiral
“Falling” berbicara tentang sesuatu yang sangat spesifik namun sangat universal: kebiasaan jatuh cinta — jenis yang terjadi berulang kali, dan setiap kalinya berubah menjadi spiral yang semakin dalam.
“Bagiku, jatuh cinta dulu selalu identik dengan jatuh berantakan — berpikir bahwa cinta bisa menyelamatkanmu, padahal justru sebaliknya ketika kamu tidak terlalu menyukai dirimu sendiri.”
— Ray Shabir
Inilah pertama kalinya Ray menyadari pola itu dalam dirinya sendiri. Dan kesadaran itu — momen ketika seseorang melihat dirinya dari luar dan mengenali apa yang selama ini ia lakukan — berubah menjadi sebuah lagu.
Alternative Rock yang Bergerak dengan Urgensi
Secara sonik, “Falling” berdiri di persimpangan antara alternative rock dan penulisan lagu yang bersifat sastrawi — diperkuat dengan hook yang catchy dan sulit untuk tidak ikut dinyanyikan.
Diproduseri oleh Bradley Kustiono dari Patras, proses penciptaannya terjadi dengan kecepatan yang jarang ditemukan tanpa mengorbankan kedalaman:
“Aku mengirim voice note lagu ini, dan kami membangunnya hanya dalam beberapa jam sebelum aku menulis liriknya.”
— Ray Shabir
Yang membuat “Falling” terasa berbeda bukan hanya apa yang ia katakan, tapi bagaimana ia bergerak. Verse-nya terasa fisik dan langsung — seperti tubuh yang jatuh sebelum pikiran sempat menyadarinya. Chorus-nya membuka sesuatu yang lebih desperate, secara lirik maupun sonik mengambil momentum yang tidak bisa dihentikan. Ada urgensi yang mengalir di sepanjang lagu — dan untuk sebuah debut, urgensi itu sangat disengaja.
Tim yang Solid di Balik Debut Ini
“Falling” dibangun oleh deretan nama yang membawa karakter masing-masing ke dalam lagu ini. Chaska Hermawan mengisi gitar, Bradley Kustiono pada bass dan synth, Muhammad Wildan pada drum dengan drum editing oleh Ipul Syaifulloh. Proses mixing dikerjakan oleh Fay Ismail dari Studio 168, sementara mastering di tangan Bennytho Siahaan. Visual dan fotografinya dikerjakan oleh Stephen Tans, dengan desain dan tipografi oleh Almer Rashad.
Seluruh elemen — dari bunyi hingga visual — terasa dirancang dengan intensi yang sama: tidak ada yang ada di sana tanpa alasan.
Dari Puisi ke Musik: Landasan yang Kuat
Latar belakang Ray sebagai penulis dan penyair bukan sekadar detail biografi. Ia adalah cara Ray mendekati setiap kalimat dalam lagu ini — personal, reflektif, dan tidak pernah memilih kata sembarangan.
Bagi Ray, lagu — seperti halnya puisi — adalah cara untuk mengingat, sekaligus mengubah pengalaman yang paling pribadi menjadi sesuatu yang dapat dirasakan dan dimiliki bersama. Dan “Falling” adalah bukti pertama dari filosofi itu dalam format musik.
Single “Falling” dari Ray Shabir kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital.


