WIJAYA80 Akhirnya Rilis “Lagu Kenangan”, Tentang Malam di Bar dan Alkohol yang Tak Pernah Bisa Jadi Pelarian

Ada lagu yang menunggu lama sebelum waktunya tiba. “Lagu Kenangan” adalah salah satunya. WIJAYA80 akhirnya merilis lagu yang sudah disimpan dalam pengarsipan musik mereka — dan yang sudah lebih dulu beredar di panggung-panggung sebelum rekaman resminya keluar — ke seluruh platform digital. Sebuah lagu tentang malam di bar, mantan yang datang bersama orang lain, dan alkohol yang ternyata tidak pernah menyelesaikan apa pun.


Setahun di Panggung Sebelum Akhirnya Dirilis

“Lagu Kenangan” bukan lagu yang baru lahir. Tepat setahun sebelum rilisnya, pada Juni 2025, lagu ini sudah diperdengarkan kepada Wijayanto Wijayanti — sebutan para penggemar WIJAYA80 — dalam beberapa kesempatan panggung. Respons yang datang tidak biasa: video-video penampilan lagu ini menarik ribuan penonton di media sosial, dan komentar membanjiri dengan satu permintaan yang sama — segera rilis.

Antusiasme organik itulah yang akhirnya memutuskan waktu perilisan. Bukan strategi label, bukan kalkulasi algoritma — hanya suara penggemar yang tidak bisa diabaikan.


Premis yang Tidak Memberi Ruang untuk Ditafsirkan Sendiri

Salah satu hal yang paling menonjol dari “Lagu Kenangan” adalah cara liriknya bekerja. Ditulis oleh Ardhito Pramono dan Hezky Joe dengan kejujuran yang tidak menyisakan ruang abu-abu, lagu ini langsung meletakkan premisnya di depan:

“Berjuta gelas dan alkohol yang menemani malam ini / takkan bisa membuat diriku melupakan dirimu. / Kukira sudah biasa ‘ku tertusuk cinta dan terluka, / tapi tidak saat kau genggam tangannya.”

Terinspirasi dari gaya penulisan lagu Jepang yang gamblang, lirik ini tidak memperindah rasa sakit dengan metafora yang berlapis. Ia menyebutnya langsung — dan justru di situlah kekuatannya.

Ardhito mengakui bahwa lagu ini bukan fiksi:

“Diambil dari kisah gue sendiri sebenernya. Melihat mantan pasangan di sebuah bar, namun dengan orang lain. Ga ada opsi selain tetap tersenyum di depan mereka walaupun di tengah sedih dan haru. Waktu pindah bar dan mencoba minum sebanyak-banyaknya, nyatanya hal itu ga pernah jadi solusi patah hati.”
— Ardhito Pramono

Hezky Joe kemudian memperluas gagasan itu ke dimensi yang lebih universal:

“Jadi walaupun berjuta-juta yang kita keluarkan — entah untuk makanan, minuman, atau belanja, tergantung coping mechanism masing-masing — tetap tidak bisa menghapus kenangan yang pernah ada.”
— Hezky Joe


Produksi Sederhana di Sudut Apartemen, dengan Hasil yang Tegas

Seluruh produksi musik dipercayakan kepada Erikson Jayanto sebagai produser tunggal. Dan setting produksinya tidak bisa lebih sederhana dari ini: sebuah sudut apartemen dengan lanskap langit malam Ibukota sebagai latar belakang — yang menurut Ardhito, turut membangun nuansa dari keseluruhan rilisan.

Sentuhan elemen musik khas balada Jepang memperkuat karakter lagu: sentimental namun tegas, tidak larut dalam ratapan tapi juga tidak berpura-pura baik-baik saja. Satu momen yang paling berkesan secara musikal adalah alunan gitar nilon tua pada bagian solo yang dimainkan oleh Hezky — sederhana, tapi justru karena itulah ia terasa begitu tepat.

Hasilnya adalah pop-balada yang terasa bersih dan langsung: tidak berlebihan dalam produksi, tapi tidak ada satu pun elemen yang terasa kurang.


Video Klip dari Tokyo, Direkam dengan Apa Adanya

Atas tingginya antusiasme penggemar, WIJAYA80 memutuskan untuk merilis video klip yang diambil di Tokyo, Jepang, pada tahun 2025. Ardhito Pramono bertindak sebagai pengarah dan penyunting video, sementara Dudhy Lisatrio memegang kamera.

Di tengah rintik hujan Kota Tokyo di malam hari, video klip ini diperankan seluruhnya oleh WIJAYA80 — dengan Erikson Jayanto sebagai tokoh utama. Proses pengambilan gambar dilakukan dengan cara yang paling jujur: hanya satu kamera, merekam segala sudut kota dengan apa adanya, minim rekayasa latar dan suasana.

Hasilnya adalah visual yang napasnya selaras dengan lagunya sendiri — tidak dibuat-buat, tidak dipercantik, tapi terasa nyata.


Rilisan Non-Kolaborasi Pertama di 2026, Penanda Menuju Album

“Lagu Kenangan” menjadi rilisan non-kolaborasi pertama WIJAYA80 di tahun 2026, setelah sebelumnya mereka merilis karya bersama Sal Pribadi dan Arsy Widianto. Tapi posisinya lebih dari sekadar rilisan solo — lagu ini adalah bagian dari awal perjalanan WIJAYA80 sekaligus penanda babak baru yang lebih besar: sebuah album yang direncanakan hadir tahun depan.

Menunggu setahun untuk dirilis, direkam dalam kesederhanaan, dan dibawa dari panggung ke panggung sebelum akhirnya menjadi rekaman resmi — “Lagu Kenangan” punya perjalanannya sendiri. Dan kini ia akhirnya ada, untuk siapa pun yang pernah duduk sendirian di bar dan tahu persis bahwa gelas berikutnya pun tidak akan membuat segalanya lebih mudah.

“Lagu Kenangan” dari WIJAYA80 kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital.

Scroll to Top