Forgotten Rilis “Silalatu” dalam Format Digital, Percikan Api Death Metal Sunda yang Kini Menjangkau Lebih Jauh

Lahir dari ujung tombak skena underground Bandung sejak 1994, Forgotten tidak pernah membutuhkan validasi dari arus utama untuk membuktikan eksistensi mereka. Namun kini, album Silalatu—yang sebelumnya hadir dalam format fisik compact disc bersama Grimloc Records pada 2020—resmi dirilis dalam format digital melalui Coexist Music. Sebuah langkah yang bukan tentang kompromi, melainkan tentang memperluas jangkauan percikan api yang sudah lama menyala.


Silalatu: Percikan yang Tidak Padam

Dalam bahasa Sunda, silalatu berarti percikan bunga api. Dan seperti namanya, album ini tidak hadir dengan tenang. Ia meledak, membakar, dan meninggalkan bekas.

Silalatu adalah kelanjutan langsung dari album Kaliyuga (2018)—namun dengan posisi naratif yang berbeda. Jika Kaliyuga menggambarkan era kegelapan, Silalatu memotret fase awal kehancuran sekaligus perlawanan dalam satu benang cerita yang utuh. Sebuah lanjutan yang terasa tidak hanya musikal, tetapi juga konseptual dan sangat disengaja.

Unsur budaya Sunda yang kental menjadi identitas yang membedakan album ini dari banyak rilisan death metal lainnya—bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai fondasi yang menyatu dengan keseluruhan karakter musik Forgotten.


Sembilan Lagu, Satu Perjalanan yang Utuh

Silalatu memuat sembilan komposisi yang disusun dengan arsitektur narasi yang jelas. Album dibuka oleh “Rapalan Kala”—sebuah pembuka yang menghadirkan kejutan lewat elemen musik Sunda dan rapalan lirik dari Morgue Vanguard, menetapkan atmosfer yang tidak biasa sejak detik pertama. Dari sana, pendengar dibawa masuk ke dalam “Warta Derita Padalisan 1” dan “Warta Derita Padalisan 2” yang mengintensifkan perjalanan.

Di tengah album, title track “Silalatu” berdiri sebagai momen yang paling berbeda dari keseluruhan diskografi Forgotten—petikan gitar klasik berpadu dengan vokal dari Shifa Amelia, menghadirkan kontras yang justru memperkuat bobot keseluruhan album. Sebuah jeda yang tidak melemahkan, melainkan memberi napas sebelum badai selanjutnya datang.

Energi agresif kemudian kembali meledak melalui “Fantasmagoria Padalisan 1”, “Fantasmagoria Padalisan 2”, dan “Titik Api”—sebelum album ditutup oleh “Layung Mamala”, sebuah komposisi instrumental yang membiarkan musik berbicara sendiri tanpa satu kata pun.


Lirik Sosial, Energi yang Tidak Pernah Kompromi

Seperti selalu menjadi tradisi Forgotten, lirik yang ditulis oleh vokalis Addy Gembel tetap berakar pada isu-isu sosial—sebuah komitmen yang sudah dijaga band ini sepanjang lebih dari tiga dekade berdiri. Bagi Forgotten, death metal bukan hanya soal teknis dan kecepatan—ia adalah medium untuk menyuarakan sesuatu yang tidak bisa disampaikan dengan cara yang lebih lunak.

Secara musikal, energi itu diperkuat oleh permainan gitar Zoteng Kampret dan Gan-gan, bass oleh Diki, serta pukulan drum Rizalu yang solid—empat musisi yang sudah tahu persis bagaimana membangun dinding suara yang tidak memberikan ruang untuk bernapas di momen-momen yang memang tidak seharusnya.


Dari Ujungberung untuk Dunia

Tiga puluh satu tahun sejak terbentuk di kawasan Ujungberung, Bandung—Forgotten tetap menjadi salah satu nama paling berpengaruh dalam perkembangan brutal death metal Indonesia. Merilis Silalatu dalam format digital bukan tentang mengikuti tren, melainkan tentang memastikan karya yang sudah dikerjakan dengan serius bisa sampai ke telinga pendengar yang selama ini tidak punya akses ke format fisiknya.

Sebelumnya, pada akhir Januari, Forgotten juga sudah menambah diskografi mereka dengan EP live yang direkam saat tampil di Bandung Deathfest 7—bukti bahwa band ini tidak pernah benar-benar berhenti bergerak.

Silalatu kini tersedia di seluruh platform streaming digital. Percikannya sudah lama menyala—dan kini lebih banyak orang yang bisa merasakannya.

Scroll to Top