Tidak semua luka terlihat. Tidak semua cerita ingin dibagikan. Namun Sembilan Tera memilih untuk tidak menyembunyikan apa pun. Band asal Bandung ini merilis mini album perdana bertajuk “Sementara Itu” pada Mei 2026—sebuah karya yang tidak berlomba untuk terdengar indah, melainkan memilih untuk terdengar nyata, bahkan ketika itu berarti membuka hal-hal yang belum benar-benar sembuh.

Musisi yang Terlalu Lama Menjadi Suara Orang Lain
Sembilan Tera terbentuk di Bandung pada Juni 2025, namun orang-orang di baliknya bukan wajah baru di dunia musik. Arie Axara (drum & songwriter), Aditya (gitar), Ricky (bass), Eza (vokal), Angga (trombone), dan Taufik (keyboard)—masing-masing sudah lama berdiri di balik lagu orang lain, menjadi suara untuk karya yang bukan milik mereka.
Sembilan Tera adalah keputusan untuk berhenti melakukan itu.
Kini mereka memilih menjadi suara untuk diri sendiri. Meski itu berarti membuka hal-hal yang belum benar-benar selesai.
Ketika Hidup Tidak Memberi Jawaban
“Sementara Itu” adalah mini album tentang fase yang paling sulit untuk dijelaskan kepada orang lain—ketika semuanya terasa menggantung di tengah, tidak jelas harus bertahan atau menyerah, tidak tahu harus percaya atau berhenti berharap.
Lima lagu yang mengisi album ini—Luruh, Pergi, Akhir Cerita, Jujur Pada Luka, dan Sementara Itu—semuanya ditulis oleh Arie Axara, merangkai keresahan menjadi lirik yang tidak selalu nyaman untuk didengar. Bukan karena ingin membuat pendengar tidak nyaman, melainkan karena lirik yang terlalu dekat dengan kenyataan memang sering kali terasa seperti itu.
Tidak ada akhir bahagia yang dipaksakan. Tidak ada solusi yang ditawarkan. Yang ada hanya satu hal: keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua hal akan baik-baik saja.
“Kadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan. Tapi berpura-pura tidak merasakan apa-apa.”
Dari Panggung Kafe ke Sesuatu yang Lebih Dalam
Perjalanan Sembilan Tera dimulai dari dunia kafe—tempat di mana mereka membaca emosi orang-orang setiap malam, mendengarkan riuh percakapan sambil bermain, dan belajar satu hal yang tidak pernah bisa dilupakan: semua orang terlihat baik-baik saja, sampai kamu benar-benar mendengarkan.
Dari pengamatan panjang itulah “Sementara Itu” lahir. Mereka tahu seperti apa rupa orang yang menyimpan terlalu banyak dalam diam. Mereka melihatnya setiap malam di baris terdepan penonton. Dan sekarang, mereka memilih untuk tidak lagi memainkan lagu yang aman—melainkan menciptakan sesuatu yang mungkin tidak nyaman, tapi jujur.
Musik yang Tidak untuk Semua Orang—dan Itu Justru Kekuatannya
Sembilan Tera tidak mencoba menjangkau semua orang dengan “Sementara Itu”. Mereka hanya mencari orang-orang tertentu—mereka yang pernah merasa sendirian di tengah keramaian, yang kehilangan arah namun tetap berpura-pura kuat, yang menyimpan banyak hal tanpa tahu harus cerita kepada siapa.
Bagi mereka, album ini bukan sekadar musik. Ia adalah pengakuan bahwa ada orang lain yang merasakan hal yang sama—dan bahwa tidak perlu sepenuhnya sembuh untuk mulai mengakui luka.
Karena terkadang, hanya didengar dan dipahami saja sudah cukup.
Mini album “Sementara Itu” dari Sembilan Tera kini tersedia di seluruh platform musik digital.


