Alala Zahra Rilis “Bundaku Tersayang” di Hari Kartini, Debut yang Lahir dari Cinta Tulus Seorang Anak

Tidak banyak penyanyi berusia 13 tahun yang memulai perjalanan musiknya dengan karya yang sebegini matang dan bermakna. Namun Alala Zahra bukan penyanyi biasa. Tepat di Hari Kartini, 21 April 2026, remaja berbakat asal Tangerang Selatan ini resmi merilis single perdananya bertajuk “Bundaku Tersayang”—sebuah lagu pop akustik yang hangat, tulus, dan terasa seperti pelukan panjang untuk sosok ibu.


Debut di Momen yang Paling Tepat

Pemilihan Hari Kartini sebagai tanggal rilis bukan kebetulan. Ada keselarasan yang terasa sangat natural antara semangat Kartini—tentang perempuan yang kuat, yang menghargai, dan yang mencintai—dengan pesan yang dibawa “Bundaku Tersayang”: sebuah persembahan dari seorang anak kepada ibu yang telah memberikan segalanya.

Lagu ini mengisahkan bakti dan cinta yang tidak ingin berhenti—keinginan seorang anak untuk terus membahagiakan ibunya, untuk membalas kasih sayang yang tidak pernah bisa benar-benar terbalas sepenuhnya. Sebuah perasaan yang universal, yang bisa dirasakan oleh siapa saja—baik sebagai anak maupun sebagai ibu.

“Semoga lagu ini bisa jadi teman untuk semua yang ingin selalu mengingat dan membahagiakan bundanya,” ungkap Alala.


Gitar Akustik, Gesek, dan Kehangatan yang Tidak Berpura-pura

Secara musikal, “Bundaku Tersayang” memilih pendekatan yang selaras dengan pesannya—sederhana namun kuat, intim namun berkarakter. Instrumen akustik menjadi fondasi utama: gitar akustik, perkusi, violin, viola, cello, hingga contra bass hadir bersama-sama membentuk aransemen yang terasa organik dan hangat.

Yang menarik, Alala tidak hanya menyanyikan lagu ini—ia juga turut memainkan gitar akustik dalam rekaman single perdananya. Sebuah detail kecil yang berbicara banyak tentang kedalamannya dalam bermusik, bahkan di usia yang masih sangat muda.

Produksi digarap dengan serius di bawah naungan Chakiiyama Production, dengan Edward Faisal sebagai Music Producer sekaligus Songwriter, dan mixing serta mastering dipercayakan kepada Reggie Chasmala. Okii Syarif dan Icha Anwar duduk sebagai Executive Producer, memastikan karya pertama Alala hadir dengan kualitas yang tidak setengah-setengah.


13 Tahun, Atlet, Pelajar, dan Kini Penyanyi

Apa yang membuat Alala Zahra terasa berbeda dari penyanyi muda lainnya adalah betapa banyak hal yang sudah ia bangun sebelum single ini dirilis. Remaja kelas 7 SMP yang tumbuh dalam keluarga Muslim berketurunan Aceh dan Sunda ini bukan hanya seorang penyanyi—ia juga atlet figure skating berprestasi di tingkat internasional.

Deretan pencapaiannya di atas es berbicara sendiri: Juara 3 Skate Malaysia 2025, Juara 2 Skate Asia 2025, Juara 1 Skate Surabaya 2025, Juara 1 Indonesia Ice Skating Open 2026, dan Juara 1 Skate Jakarta 2026. Prestasi yang tidak lahir dari keberuntungan, melainkan dari disiplin dan kerja keras yang sudah tertanam sejak dini.

Keseimbangan antara akademik, olahraga, dan musik di usia 13 tahun adalah sesuatu yang tidak mudah—dan Alala menjalaninya dengan cara yang terasa sangat alami.


Anthem Cinta untuk Ibu yang Melampaui Usia Penciptanya

“Bundaku Tersayang” diharapkan bisa menjadi pengingat—tentang besarnya pengorbanan seorang ibu, tentang pentingnya menghargai kehadirannya sebelum terlambat, dan tentang energi positif yang bisa datang dari rasa syukur yang tulus.

Untuk sebuah debut dari penyanyi berusia 13 tahun, lagu ini menyimpan kedewasaan emosional yang jauh melampaui angka di KTP-nya. Dan itulah yang membuatnya terasa istimewa—bukan karena dibuat oleh seseorang yang muda, melainkan karena dibuat oleh seseorang yang benar-benar merasakannya.

Single “Bundaku Tersayang” kini tersedia di seluruh platform streaming digital, dan video liriknya dapat disaksikan di kanal YouTube resmi Alala Zahra.

Scroll to Top