Setiap perjalanan besar dimulai dari satu langkah pertama. Bagi Odyssey, band alternative rock/modern metal asal Depok, Jawa Barat, langkah itu bernama “Memories”—debut single yang resmi dirilis pada 10 April 2026 di seluruh platform streaming digital. Sebuah lagu yang ditulis dengan jujur, dibalut dengan energi yang berat, dan membawa cerita tentang seseorang yang akhirnya berhasil berdamai dengan dirinya sendiri.

Lahir dari Keresahan yang Sama
Odyssey terbentuk pada Februari 2026—band yang usianya masih sangat muda, namun datang dengan semangat yang tidak setengah-setengah. Empat personel inti menggerakkan band ini: Zoel Fahmi di vokal, Arif Maulana di drum, Aldy Fauzan di gitar, dan Asaw di gitar.
Mereka bukan orang-orang yang baru mengenal dunia bermusik. Masing-masing membawa pengalaman dari perjalanan band sebelumnya—dan keresahan yang sama itulah yang akhirnya mempertemukan mereka dalam satu nama, satu visi, dan satu debut yang mereka siapkan dengan serius.
Ketika Kenangan Menjadi Penghalang, Lalu Menjadi Pelajaran
“Memories” bercerita tentang titik balik—momen ketika seseorang yang telah jatuh harus berjuang untuk bangkit, namun terus terhalang oleh kenangan lama yang tidak kunjung pergi. Kenangan yang mengganggu, yang membayangi setiap langkah ke depan, yang membuat proses pemulihan terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya.
Namun lagu ini tidak berhenti di sana. Perjalanannya berlanjut ke tempat yang lebih terang: ketika seseorang akhirnya menemukan jalan keluar, bertemu dengan orang-orang yang mendukungnya tanpa memandang masa lalu, dan perlahan mampu bangkit kembali. Bukan karena kenangan itu hilang—melainkan karena ia akhirnya bisa berdamai dengannya.
Sebuah cerita yang sederhana, namun terasa sangat nyata bagi siapa pun yang pernah berjuang melawan bayang-bayang masa lalunya sendiri.

Berat di Musik, Jujur di Lirik
Secara musikal, “Memories” mengambil jalur yang tidak main-main. Balutan alternative rock dan modern metal menjadi fondasi lagu ini—namun yang membuat “Memories” terasa berbeda adalah keberanian Odyssey untuk memasukkan elemen-elemen yang tidak biasa dalam genre ini: sentuhan electronic dan orchestra yang hadir sebagai lapisan baru di atas distorsi dan ritme yang berat.
“Seru dan agak kompleks ya nge band jaman sekarang,” ucap Zoel, vokalis Odyssey, dalam proses produksi—sebuah pengakuan jujur tentang betapa banyak hal baru yang harus dipelajari sekaligus, dari software DAW, tweaking sound, hingga distribusi digital.
Eksperimen itu terbayar. Hasilnya adalah lagu yang punya kedalaman sonik lebih dari yang biasanya ditawarkan oleh debut single sebuah band baru.
Debut yang Juga Merupakan Proses Belajar
Bagi Odyssey, “Memories” bukan hanya tentang merilis lagu pertama—ia adalah tentang proses yang dilalui untuk sampai ke titik itu. Dari pre-production hingga distribusi, dari penulisan lirik hingga mixing sound, setiap tahap menjadi pelajaran yang membentuk cara mereka memandang musik dan produksi ke depannya.

Visi mereka ke depan sudah jelas: terus memperbaiki kualitas penulisan lagu dan kualitas sound, baik di rekaman maupun di atas panggung—sambil terus bereksperimen sebanyak mungkin. Beberapa materi untuk single berikutnya sudah dalam persiapan, termasuk rencana untuk menghadirkan music video yang dapat merepresentasikan karya mereka secara visual.
“Memories” adalah pembuka. Dan dari cara Odyssey memulai perjalanannya, ada banyak hal yang layak ditunggu dari band ini ke depannya.
Single “Memories” dari Odyssey kini tersedia di seluruh platform streaming digital.


