Di usia 18 tahun, reevva tidak memilih untuk memulai dengan cerita yang manis dan rapi. Mini album debut bertajuk Bad Good Plans hadir sebagai sesuatu yang jauh lebih jujur dari itu—sebuah proyek pop dan synthpop yang merayakan kekacauan, kerentanan, dan semua bagian dari proses mencintai yang sering kali orang pilih untuk tidak ceritakan.

Ketika yang Buruk Juga Punya Tempatnya
Judul Bad Good Plans lahir dari kebimbangan yang sangat manusiawi: bahwa sesuatu yang tampak buruk bisa membawa kebaikan, dan sesuatu yang terlihat baik bisa berakhir menjadi sebaliknya. Bagi reevva, dikotomi itu adalah inti dari cara ia memandang cinta—tidak hitam putih, tidak selalu dimulai dari yang manis, dan pasti tidak selalu berakhir dengan baik.
Ia mempertanyakan sesuatu yang jarang dipertanyakan: kenapa kisah cinta hampir selalu digambarkan dengan awal yang indah dan akhir yang damai? Seolah bagian yang berantakan tidak pernah punya tempat untuk hadir.
“Padahal kenyataannya, perjalanan cinta justru sering dimulai dari hal yang berantakan, dan berakhir lebih berantakan lagi.”
Dari pengamatan terhadap orang-orang terdekatnya—bagaimana mereka jatuh, bangkit, mencoba lagi, lalu jatuh lagi—reevva belajar bahwa kisah-kisah yang dianggap ‘buruk’ justru sering menyimpan keindahan tersembunyi: momen yang membekas, pelajaran yang tumbuh diam-diam, dan rasa sakit yang perlahan membentuk seseorang menjadi lebih kuat.
Perjalanan yang Tidak Dipoles
Bad Good Plans disusun sebagai narasi yang bergerak. Album ini membawa pendengar melewati perjalanan jatuh cinta secara utuh—dari kerapuhan dan penyangkalan di awal, ke keyakinan yang tumbuh perlahan, hingga cinta yang membesar dan kemudian runtuh ketika tidak berjalan sesuai harapan.
Tidak ada tahap yang dilewati. Tidak ada bagian yang dipercantik agar terasa lebih mudah diterima. reevva dengan sadar memilih untuk mengemas seluruh proses itu sementah mungkin—tanpa memoles rasa sakit, tanpa menutupi keretakan, dan tanpa memalsukan keindahan. Semua dibiarkan hadir sebagaimana adanya.
Dan menariknya, ia bahkan tidak membawa pendengar ke titik ikhlas. Karena bagi reevva, keikhlasan masih terlalu jauh untuk diraih. Yang tersisa adalah kejujuran, kerentanan—dan sebuah bonus track sebagai pengakuan besar tentang seseorang yang tetap memilih mencintai, meski dianggap salah oleh dunia.

Synthpop yang Terasa seperti Perjalanan Malam
Secara musikal, Bad Good Plans bergerak di ranah pop dan synthpop dengan keragaman nuansa yang cukup luas—dari yang fun dan ringan, ke yang sedih dan intim, hingga yang intens dan greget. Keragaman itu bukan tanpa arah; ini adalah cara reevva menunjukkan bahwa ia bisa bermain di banyak warna sekaligus tetap memegang narasi utamanya.
Musik reevva sering digambarkan sebagai “music for cars”—lagu-lagu yang terasa paling tepat ketika diputar di perjalanan malam, di jalanan yang lengang, atau saat pikiran sedang penuh. Lapisan synth yang hangat, ritme yang mengalir pelan, dan vokal yang terasa dekat menciptakan ruang seolah pendengarnya sedang melayang di antara kenangan dan harapan.
Ini bukan musik yang berteriak minta perhatian. Ini musik yang menemani—untuk menyetir tanpa tujuan, memandangi lampu kota, dan merasakan emosi yang tidak sempat diucapkan.
18 Tahun, dan Sudah Punya Sesuatu untuk Dikatakan
Bad Good Plans juga menandai era baru bagi reevva—lebih segar, lebih berani, dan lebih dewasa, baik dalam penulisan, produksi, maupun cara ia memandang cinta dan dirinya sendiri. Di usia yang baru saja menginjak 18 tahun, ia sudah memiliki keberanian untuk tidak berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja.

Apakah orang merasa malu dengan akhir yang tidak sempurna, sampai-sampai mereka menutup mata dari tahap-tahap lainnya? reevva sepertinya tidak. Dan justru dari keberanian untuk menatap bagian-bagian yang kacau dan tidak ideal itulah Bad Good Plans menemukan kekuatannya—karena bagian-bagian itulah yang paling hidup, paling jujur, dan paling layak dikenang.
Bad Good Plans kini tersedia di seluruh platform musik digital.


