Hampir tiga dekade mengisi skena musik pop punk Indonesia, Rocket Rockers akhirnya menghadirkan sebuah karya yang benar-benar berbeda dari apa yang selama ini mereka bangun. Single terbaru bertajuk “Yang” resmi dirilis sebagai lagu bertemakan religi pertama sepanjang karier mereka—sebuah langkah yang tidak hanya mengejutkan, tapi juga terasa jujur dan penuh makna.

Babak Baru di Usia Ke-27
Dua puluh tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam rentang itu, Rocket Rockers telah melewati berbagai fase—dari panggung ke panggung, album ke album, generasi ke generasi penggemar. Namun “Yang” menandai sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya: mengeksplorasi spiritualitas secara langsung melalui musik.
Bassist Bisma menyebut langkah ini sebagai eksplorasi yang sudah lama ingin mereka tempuh, namun baru terasa tepat waktunya sekarang.
“Selama hampir 27 tahun, kami belum pernah membuat lagu dengan tema religi. Ini menjadi eksplorasi baru yang juga relevan dengan kondisi saat ini,” ujarnya.
Bagi Bisma, relevansi itu bukan sekadar soal tren. Ia melihat “Yang” lahir dari kepedulian nyata terhadap fenomena kesehatan mental yang kian banyak diperbincangkan di masyarakat.
“Kami ingin memberikan perspektif yang menenangkan melalui musik dan lirik yang kami sampaikan.”
Lahir dari Titik Balik yang Personal
Di balik “Yang”, ada cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar keputusan artistik. Vokalis sekaligus gitaris Aska mengungkapkan bahwa lagu ini lahir dari fase hidup yang reflektif dan personal—termasuk dari pengalaman menghadapi kondisi kesehatan yang sempat ia alami.
“Di momen itu, saya belajar untuk benar-benar berserah. Dari situ saya merasa ada ketenangan yang akhirnya menjadi inspirasi utama lagu ini,” kata Aska.
Ketenangan itulah yang kemudian ia coba tuangkan bukan hanya dalam lirik, tapi juga dalam pendekatan kreatif selama proses pembuatan lagu. Aska secara sadar memberi ruang lebih luas kepada seluruh personel untuk menginterpretasikan makna spiritualitas versi mereka masing-masing.
“Saya ingin lagu ini lahir dari perspektif masing-masing personel tentang spiritualitas,” tambahnya.
Hasilnya adalah sebuah lagu yang terasa kolektif—bukan hanya milik satu orang, tapi milik semua yang terlibat, dan pada akhirnya, milik siapa pun yang mendengarkannya.
Minimalis, Tapi Penuh Bobot
Secara musikal, “Yang” tetap membawa identitas Rocket Rockers, namun dengan pendekatan yang jauh lebih menahan diri dibanding karya-karya mereka sebelumnya. Pendekatan minimalis ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi drummer Ozom.
“Ini pertama kalinya saya bermain dengan pendekatan yang sangat minimal, lebih menahan dan fokus pada nuansa,” jelasnya.
Pilihan untuk tidak berlebihan secara musikal justru memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Ketika lirik berbicara tentang ketenangan dan penyerahan diri, musik pun ikut bernapas dengan cara yang sama—perlahan, tapi berasa.
Kolaborasi Spesial dengan Semesta Records
Perilisan “Yang” juga menjadi penanda kolaborasi antara Rocket Rockers dan Semesta Records, label yang dinahkodai oleh Rian Ekky Pradipta. Dalam proyek ini, Rian turut duduk sebagai Executive Producer dan memastikan proses produksi berjalan dengan menjaga karakter khas band, sekaligus menghadirkan kualitas audio yang maksimal.
Bagi Rian, ketertarikannya pada proyek ini muncul sejak pertama kali mendengar demo lagu.
“Lagu ini punya tema yang sangat berbeda dari karya Rocket Rockers sebelumnya, dengan pendekatan yang lebih spesifik pada nilai ketuhanan. Itu yang membuat saya merasa proyek ini penting untuk didukung,” ungkapnya.
Kolaborasi ini bukan sekadar urusan bisnis label—ada keyakinan bersama bahwa “Yang” adalah karya yang layak hadir dan didengar oleh sebanyak mungkin orang.
Untuk Siapa Pun yang Sedang Berat
Pada akhirnya, “Yang” adalah tawaran—bukan instruksi. Rocket Rockers tidak datang dengan khotbah, melainkan dengan kehadiran yang tulus di tengah tekanan hidup yang kerap kali terasa tak tertanggung.
“Sekarang kami ada di fase ingin membawa energi yang lebih positif, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan para pendengar,” kata Aska.
Harapan itu ia tutup dengan sederhana, namun bermakna dalam:
“Semoga lagu ini bisa menjadi penenang dan pengingat untuk tetap bersyukur.”
“Yang” kini tersedia di seluruh platform streaming digital. Sebuah karya yang membuktikan bahwa kedewasaan artistik dan keberanian untuk berubah bisa datang kapan saja—bahkan setelah 27 tahun sekalipun.


