Penyanyi dan penulis lagu muda, Argya, kembali menyapa pendengar dengan karya terbarunya berjudul “nanti bila engkau pergi”. Lagu ini lahir dari sebuah keinginan sederhana namun mendalam: harapan untuk bisa bersama selamanya, meski tak seorang pun pernah benar-benar tahu bagaimana takdir akan berakhir.

“nanti bila engkau pergi” mengangkat rasa syukur atas kehadiran seseorang yang begitu berarti, sekaligus ketakutan yang diam-diam tumbuh saat membayangkan kehilangan. Melalui lagu ini, Argya menyampaikan pesan yang sangat personal:
“Bila nanti kita tidak berakhir baik, setidaknya bolehkah aku menyimpanmu di sisa hidupku.”
Lagu ini berangkat dari pengalaman batin yang jujur dan apa adanya. Bagi Argya, pertanyaan seperti “Maukah kau di sini selamanya?” dan “Bolehkah aku mengingatmu untuk selamanya?” adalah pertanyaan yang tak pernah benar-benar ia ucapkan karena takut akan jawabannya.
Namun dibalik ketakutan itu, ada penerimaan yang sunyi. Seberapa pahit pun jawabannya, selalu ada cara untuk tetap mencintai-yakni dengan mengingat.

Nuansa pasrah yang terasa dalam lagu ini bukanlah bentuk keikhlasan sepenuhnya, melainkan cerminan realita emosi yang sering terjadi dalam hubungan. Tidak semua perasaan bisa dilepas dengan utuh, dan Argya memilih menyampaikan sudut pandang tersebut secara jujur tanpa dramatisasi berlebihan.
Secara musikal, “nanti bila engkau pergi dibangun dengan pendekatan yang intim dan emosional. Argya mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para kerabat kerja yang terlibat dalam proses kreatif lagu ini. Kebersamaan dan pemahaman yang sama atas kisah yang dibawakan membuat seluruh tim mampu menyatukan visi, menghadirkan aransemen yang sederhana namun menyayat.
Kekuatan lagu ini terletak pada lirik yang repetitif namun reflektif, serta dinamika musik yang memberi ruang bagi pendengar untuk ikut merasakan kerinduan, harapan, dan ketidak ikhlasan yang tertahan.
Melalui “nanti bila engkau pergi”, Argya berharap para pendengar dapat lebih menghargai dan mensyukuri siapa pun yang saat ini ada di samping mereka.

Karena pada akhirnya, kehilangan selalu terasa lebih menyakitkan ketika semuanya telah benar-benar pergi.
Dengan lirik yang tulus dan melodi yang menyentuh, “nanti bila engkau pergi” menjadi pengingat bahwa cinta tak selalu tentang memiliki selamanya-kadang tentang merelakan, namun tetap menyimpan kenangan dalam hati.


