Sebuah Album Konseptual Tentang Kelahiran, Keresahan Hidup, dan Perlawanan
RUMAH TUA resmi merilis album perdana mereka bertajuk “Merayakan Hari Akhir”, sebuah karya penuh yang memuat delapan lagu dengan narasi yang dirangkai secara berurutan. Album ini menyuguhkan perjalanan emosional yang berangkat dari fase kelahiran, bergerak melalui kegelisahan hidup sehari-hari, hingga mencapai pernyataan tegas tentang arti perlawanan.

Album ini menjadi representasi cara RUMAH TUA mengolah pengalaman personal dan realitas sekitar menjadi cerita musikal yang padat, terstruktur, dan saling terhubung satu sama lain.
Album Sebagai Perjalanan Emosional
“Album ini kami susun seperti perjalanan yang kami alami sendiri. Dimulai dari kelahiran, kegelisahan sehari-hari, sampai akhirnya tiba di titik di mana kami merasa harus mengambil sikap dan melawan,” ujar Dwiky, drummer RUMAH TUA.
Pernyataan tersebut menjadi fondasi konseptual Merayakan Hari Akhir, yang tidak dihadirkan sebagai kumpulan lagu terpisah, melainkan satu rangkaian cerita utuh yang mengajak pendengar mengikuti alur emosi dari awal hingga akhir.
Dari Kelahiran hingga Keresahan Hidup
Album dibuka dengan lagu “Kata Pengantar”, sebuah nomor yang berfungsi sebagai pintu masuk menuju keseluruhan cerita. Lagu ini menggambarkan ruang kelahiran yang tidak steril—dipenuhi keributan batin, kegelisahan, dan pencarian arah hidup.
Narasi kemudian berkembang melalui “Perjamuan”, yang menghadirkan gagasan rumah pertemuan sebagai ruang simbolis. Lagu ini menggambarkan tempat di mana siapa pun dapat datang, duduk bersama, dan mengambil bagian dalam perjalanan, menjadi ruang berbagi sebelum melangkah lebih jauh.

Konflik, Luka, dan Ketegangan di Tengah Album
Memasuki bagian tengah album, konflik mulai mengerucut lewat lagu-lagu “Korban”, “Lara Membara”, dan “Satu Api”. Ketiganya menyoroti ketegangan antara kerentanan dan ketegasan, antara menerima luka dan memilih untuk tetap bergerak.
Dengan pendekatan Rock & Soul yang menjadi ciri khas RUMAH TUA, bagian ini menghadirkan eskalasi emosional yang semakin intens, memperlihatkan sisi gelap sekaligus daya juang dalam perjalanan hidup.
Refleksi dan Perlawanan sebagai Penutup
Ketegangan berlanjut dalam “Setapak Kematian” dan “Tanya Tanda?”, dua lagu yang berfungsi sebagai titik refleksi. Di sini, pendengar diajak menghadapi pertanyaan mendasar tentang arah hidup, batas keberanian, dan pilihan yang harus diambil.
Album ditutup dengan “krsst”, yang menjadi klimaks sekaligus pernyataan sikap. Lagu ini merumuskan ulang makna kekalahan, bukan sebagai akhir, melainkan sebagai awal baru yang bisa dimulai oleh siapa saja. Kekalahan diposisikan sebagai bagian dari ambisi—sebuah kondisi yang justru menyalakan kembali dorongan untuk melawan.

Tersedia di Seluruh Platform Digital
Album perdana RUMAH TUA “Merayakan Hari Akhir” kini telah tersedia dan dapat dinikmati di seluruh platform musik digital. Rilisan ini menjadi ajakan terbuka untuk merayakan perlawanan, bagi siapa pun yang memilih untuk tetap bersuara, bertahan, dan melangkah.


